Home » Opini » Pitung Sang Penggerak (3)

Pitung Sang Penggerak (3)

tabloidbintang

Oleh Komaruddin Rachmat

Pada 1640 armada Portugis yang membawa tawanan dihancurkan armada Belanda di Selat Malaka. Tawanan Portugis tersebut dibawa ke Batavia dan  kemudian dijadikan budak. Mereka kemudian dibebaskan setelah mau pindah dari agama Katolik menjadi Protestan.

Dipanggil  dengan sebutan sebagai kaum Mardijck atau kaum yang merdeka. Mereka kemudian ditempatkan di kampung tugu Cilincing bekas pemukiman Hindu yang telah ditinggalkan, yaitu setelah Sunda Kelapa jatuh ke tangan Pangeran Jayakarta pada  1527. Kampung Tugu dari Cakung tidak terlalu jauh, ketika itu dengan hanya melintasi sawah dan rawa bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Di antara mereka ada yang tetap ingin mempertahankan agamanya Katolik, kemudian melarikan diri di antaranya ke Kampung Sawah, melalui sarana transportasi sungai (kali Cakung) yang berhulu di Leuwinanggung Bogor dan hilirnya di Cilincing (Kampung Tugu).

Kampung Sawah itulah yang kemudian menjadi tempat bermukim yang baru bagi Napiun dan istri barunya. Kampung Sawah adalah tempat pemula komunitas Betawi beragama Nasrani, sejalan dengan gencar-gencarnya Kristenisasi yang dilakukan Belanda ketika itu.

Para jagoan yang menjadi buronan Belanda umumnya ditawarkan, bahwa mereka akan bebas bila mereka mau pindah agama. Salah satu contohnya adalah Lambra Rikin jagoan dari Cikeas yang akhirnya menjadi pendeta katolik terkemuka di Kampung Sawah ketika itu. Keluarga Rikin masih eksis di kampung sawah  sampai hari ini termasuk keturunan Napiun.

Kong Junet sering bertutur tentang sejarah Batavia kepada Pitung, termasuk kisah penyerbuan 100.000 tentara mataram  menyerang Batavia tahun 1628 dan 1629 yang melewati kampungnya, setelah menyusuri pantai utara dengan berjalan kaki dari Kesultanan Mataram di Jawa Tengah sampai Batavia.

Dari cerita-cerita itulah yang kemudian melekat dalam jiwa perlawanan Pitung terhadap Belanda. Solihun kecil bukanlah orang terpelajar sampai akhir hayatnya, tapi dia adalah anak kecil yang tumbuh dari kisah turun-temurun yang disampaikan kakeknya, Kong Junet.

Solihun kecil mengetahui tentang jalan yang melintas di kampung, yaitu Jalan Daendles (sekarang Jalan Raya Bekasi),  yang dibangun Gubernur Daendles pada 1825 yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Solihun kecil mengerti pula tentang kerja paksa yang dialami penduduk ketika itu.

Solihun kecil juga didongengkan tentang kegagahberaniaan Falatehan yang menaklukkan Sunda Kelapa pada 152  dan tragedi yang dialami Pangeran Jayakarta yang diusir oleh Belanda dari keratonnya di Jayakarta pada 1619. Solihun kecil sering diajak berziarah oleh Kong Junet ke makam keramat Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum yang tidak jauh dari kampungnya, Cakung.

Solihun kecil juga mengetahui kegagahan tentara mataram, karena kakeknya merupakan salah satu keturunan tentara Mataram yang tidak kembali lagi ke Mataram setelah gagal menaklukkan benteng Batavia pada 1629.

Kong Junet menceritakan tentang kepengecutan Belanda, ketika bertempur dengan tentara Inggris di Mester Cornelis (Jatinegara) pada 1811, yang kalah begitu cepat tanpa perlawanan yang berarti. Jatinegara juga tidak jauh dari Kampung Cakung, yang menurut Kong Junet suara-suara ledakan  Canon ketika itu terdengar sampai ke kampungnya.

Kepergian kakeknya yang dibunuh oleh musuh-musuh lamanya membuat luka di hatinya, dan bertekad pada suatu saat untuk membalas dendam.

Solihun menjalani hidupnya seperti mengalirnya air di sungai,  dia sangat yakin bahwa kehidupan masa depan adalah ghaib, bahkan manusia  tidak tahu apa yang akan terjadi meski hanya sedetik sekalipun.

Saat-saat  ketika dia diantar oleh ibunya ke uwanya Haji Napiudin di Marunda, dan ketika  dia diantar Haji Napiudin ke Haji Naipin paman yang lainnya ke Rawa Belong, maka itu dijalaninya tanpa beban, ikhlas menjalaninya.

Golok milik kakeknya menjadi kenangan abadi baginya, sebagai pelepas rindu kepada kakeknya dan ibunya yang sangat dicintainya. Perpisahan dengan ibunya adalah suatu yang sangat memilukan hatinya. (bersambung)

 

Komentar

komentar