Home » Opini » Pitung Sang Penggerak (2)

Pitung Sang Penggerak (2)

tabloidbintang

Oleh Komaruddin Rachmat

Pitung di Rawa Belong dengan terbuka diterima oleh pamannya Haji. Naipin. Haji Napiudin sebelum pulang menyampaikan pesan kepada adiknya, agar mendidik pitung dengan ajaran agama, mengingat ayahnya pitung telah menjadi murtadin yang membuat rasa prihatin keluarga besar mereka semua.

Ajaran dasar  silat Haji Naipin adalah aliran yang sama dengan Si Pitung yang diturunkan oleh Kong Junet, sehingga ketika latihan mereka langsung nyambung.

Tapi jurus jurusnya menjadi lebih berisi karena ditambah oleh pengalaman- pengalaman Haji Naipin, sehingga jurusnya menjadi sangat ilustratif dan kreatif. Dan karena Pitung sangat berbakat, maka ketika latihan-latihan yang mereka lakukan sangat seru, dan tidak jarang ditonton oleh penduduk Rawa Belong.

Ilmu golok Pitung dimantapkan bersama pamannya, ilmu goloknya  diturunkan dari kakeknya, Engkong Junet.

Kong Junet berdarah Mataram dan China, Masih ada garis keturunan  dengan  Mpok Oni (li ong ni/li hong nio) yang dikenal dengan panggilan Mpok Oni. Mpok Oni sendiri merupan legenda di Cakung yang kisahnya akan ditulis dalam kesempatan lain.

Ilmu silat Mpok Oni diturunkan dari ayahnya, Li Bun yakni silat aliran Mongol yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan.

Cerita selanjutnya, Pitung  tumbuh di masa remajanya dan  berkembang di pusat kota.Tanah Abang di zaman itu adalah kota satelit setelah Mister Cornelis  (Jatinegara sekarang).

Jaringan kereta dan trem dalam kota belum lama dibangun, sehingga Pitung mendapatkan pengalaman yang menakjubkan.

Di Pasar Tanah Abang pedagang datang dari segala penjuru Batavia, tukang buah-buahan umumnya datang dari Pasar Minggu, sampai Keranji di Bekasi. Pedagang-pedagang minyak tanah umumnya dari kampung Gabus di Bekasi utara, pedagang pedagang itu menggunakan  alat transportasi kereta ke Tanah Abang.

Rawa Belong tempat tinggalnya Haji Naipin. Lokasinya sangat strategis.  Pasar Tanah Abang dapat dijangkau cukup hanya dengan berjalan kaki.

Pada saat berumur 16 tahun, kedewasaan Pitung telah melebihi remaja seusianya. Didikan ilmu Engkongnya tentang ilmu tenaga  dalam memperkuat sosoknya sebagai pria berkarakter.

Setelah dirasa cukup mumpuni oleh pamannya, Haji Naipin, Pitung dipercaya  untuk berdagang kambing di Pasar Palmerah Tanah Abang, menggantikan Haji Naipin yang ketika itu sedang sakit.

Pengalaman dagang pertamanya Pitung adalah  anak baru, maka dia menjadi target begundal-begundal Belanda di pasar,  kantong uangnya dicuri ketika dia sedang shalat dan dia tahu siapa yang mencurinya.

Tapi, diantara tanggung jawab terhadap uang hasil jualannya dan pesan H Naipin, ia diminta agar jangan melawan begundal Belanda walaupun dipalak sekalipun,  hal itu harus kuat dihadapinya. Tapi Pitung tidak dapat menahan diri ketika  dia menyaksikan pedagang lainnya dipalak dan dianiaya.  Insiden itu pun kemudian terjadi.

Dalam sebuah perkelahian dengan hanya beberapa jurus saja  dua leher patah dibuatnya. Orang Cakung menyebutnya “Jurus Jambrong”, yaitu ketika diserang mengambil langkah seliwa (bergeser -kesamping dengan cepat) dan langsung dengan gerakan super cepat  menjambret leher..”track!”, maka patahlah leher-leher itu.

Sebelum tentara Belanda datang Pitung telah meninggalkan pasar, dengan diiringi surprise dan  rasa simpatik orang orang pasar, yang dituju adalah pulang dan berniat melarikan diri. Pamannya tentu saja kaget mendengar cerita Pitung, kemudian dengan tergopoh-gopoh Haji Naipin menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan Si Pitung, termasuk memberikan saran agar bersembunyi di Cilegon Banten saja, tempat banyak teman-teman Haji Naipin, karena pernah mengenyam pendidikan di pesantren di Cilegon.

Pitung  pamit pada pamannya, melarikan diri ke Cilegon Banten yang saat itu masih basah paska dipadamkannya pemberontakan petani Cilegon (1888).

Kemudian pada  waktu yang dianggapnya cukup, Pitung kembali ke Batavia menggerakkan rakyat untuk berani melawan Belanda dengan caranya yang telah melegenda itu.

Belanda dengan liciknya memelintir opini melalui koran-koran yang terbit waktu itu, mempropagandakan bahwa  sosok Pitung menjadi perampok sadis karena  kecewa uangnya dicuri. (bersambung)

 

 

Komentar

komentar