Home » Opini » Pitung Sang Penggerak (1)

Pitung Sang Penggerak (1)

tabloidbintang

Oleh Komaruddin Rachmat

Solihun lahir di Kampung Kayu Tinggi, sekarang Kelurahan Cakung Timur – Jakarta Timur) dari ayah Napiun (Bang Piun) dan ibu Sopinah (Mpok Minah). Ketika berumur 10 tahun Solihun dan ibunya ditinggalkan oleh ayahnya yang kepincut gadis Kampung Tugu yang beragama Nasrani. Bang Piun pun jagoan Cakung itu berpindah agama menjadi Nasrani. Setelah menikah, mereka pindah ke kampung sawah (sekarang pondok melati, wilayah kota Bekasi).

Sepeninggal ayahnya, Solihun diasuh oleh kakeknya Engkong Junet. Engkong Junet di masa mudanya adalah jagoan yang sangat terkenal di Batavia  bagian Timur termasuk Bekasi. Kemampuan bela dirinya diturunkannya kepada Pitung, disamping juga pembelajaran mengaji Al-Quran. Kong Junet sangat prihatin dengan apa yang telah dilakukan anaknya Napiun, karena itu dia sangat ketat menanamkan nilai-nilai agama kepada cucunya, Solihun.

Solihun kecil adalah anak yang disegani di kalangan anak-anak seusianya dan menjadi pahlawan di antara mereka. Karena kuda-kudanya yang kokoh, sehingga dia dijuluki si Bambu Petung. Bambu Petung ketika itu banyak dijumpai di kampung Kayu Tinggi, jenis batangnya besar dan kokoh, lentur bila tertiup angin, mirip ketika Pitung sedang bersilat.

Sahabat sekaligus saudara sepupunya adalah Jiit (Jiih). Dengan Jiit lah masa-masa kecil dilaluinya. Mancing bersama, jalan-jalan bersama, dan mengaji bersama. Hanya belajar silatnya yang berbeda. Jiit tidak belajar silat kepada Kong Junet tapi belajar pada yang lainnya. Tetapi mereka berdua sering bertukar pikir tentang jurus-jurus silat yang mereka pelajari masing-masing.

Sampai tahun 70 an bocah cakung masih belajar silat aliran Kong Jiit. Tapi, lama-kelamaan tidak ada lagi peminatnya. Mesikipun demikian di kalangan peminat seni budaya Cakung asli saat ini, nama Jiit masih sering disebut sebagai aliran silat yang khas.

Tempat mengaji mereka adalah Masjid Buaran  Cakung ( Jalan Raya Bekasi KM 23) yang sampai saat ini masih ada.  Konon,  sebentar lagi akan terkena gusur untuk proyek pelebaran jalan.

Masjid tersebut konon kabarnya dibangun oleh Saridin yang setelah tua dikenal dengan sebutan Kumpi Ridin.  Kumpi Ridin adalah mantan tentara Mataram  ( 1628 M) yang menetap di Cakung setelah gagal menaklukkan Benteng Batavia. Kubah bagian dalam masjid masih asli, hanya keseluruhan bangunan telah berubah dari waktu ke waktu.

Setelah Kong Junet terbunuh akibat penyergapan keroyokan yang dilakukan oleh musuh-musuh lamanya, Solihun kecil kemudian dibawa oleh ibunya ke uwa (pamannya) Haji Napiudin, seorang juragan sero (juragan ikan).

Tapi,  Solihun tidak lama di Marunda karena kesibukan Haji Napiudin dalam bisnisnya. Pitung kemudian oleh Haji Napiudin dibawa ke Haji Naipin, adiknya yang lain di Rawa Belong. Di Rawa Belong Pitung memperdalam ilmu silat dan mengaji.

Kepergian Pitung meninggalkan Cakung adalah kesedihan bagi mereka berdua dan Pitung pun tidak pernah lagi kembali ke kampung halamannya termasuk bertemu dengan  ibunya sampai akhir hayatnya.

Solihun Si Bambu Petung, kemudian nantinya  oleh Belanda di panggil dengan sebutan  Pitung sesuai logat Belanda. Dan Solihun pun kemudian terkenal sebagai Si Pitung. (bersambung)

 

 

 

Komentar

komentar