Home » Opini » G30S/PKI, Mengapa Gagal? (2)

G30S/PKI, Mengapa Gagal? (2)

Komaruddin Rachmat

Beralihnya operasi militer dari Kolonel Untung langsung ke biro khusus (Syam) ditandai dari terjadinya dua pengumuman yang berbeda di RRI.

Yaitu pada pagi hari diumumkan telah digagalkanya kudeta oleh dewan jenderal, tapi menjelang petang di siarkan dengan berita yang berbeda bahwa telah terbentuk dewan revolusi yang berarti kudeta terhadap Soekarno.

Disini juga bisa dilihat bahwa Untung ternyata hanya petugas dan pelaksana partai, yang menentukan adalah DN Aidit dan Syam Kamaruzaman.

Anggapan PKI telah menguasai TNI dan berhasil memecah Angkatan Darat melalui operasi biro khusus Syam Kamaruzaman, menyebabkan PKI masuk dengan mudah ke dalam jebakan Soeharto.

Harold Crouch dalam bukunya “Militer dan Politik Indonesia (1986), mengungkapkan temuannya tentang perwira-perwira TNI Angkatan Darat yang telah terbina PKI, yaitu 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, 100 di Jawa Barat,40 di Sumut, 30 di Sumbar, dan 50 di Jakarta.

Menurut Crouch, perwira-perwira tersebut dipersiapkan untuk menduduki jabatan strategis setelah G30S/PKI berhasil.

Sampai hari ini orang masih bertanya-tanya mengapa pasukan pasopati begitu mudahnya masuk rumah para jenderal yang diculik, bahkan fakta terakhir menunjukkan justru Jenderal Ahmad Yani yang minta sendiri agar penjagaan terhadap rumahnya ditarik, padahal ketegangan Angkatan Darat-PKI ketika itu sudah mencapai puncaknya.

Siapa yang memprovokasi A Yani sampai agar penjagaan di rumahnya di tarik? Hanya ilmu intelijen yang bisa menjelaskannya.

Ini adalah kesaksian Herman Sarens Sudiro (youtube), subuh di hari kejadian itu dia melaporkan kepada Umar Wirahadikusuma (Panglima Kodam Jayakarta) tentang ada penculikan para jenderal.

Lalu apa jawaban Umar, “Diam Kamu!”.. jangan banyak omong!”.  Kemudian mereka berdua berangkat ke Kostrad menemui Soeharto yang jam 6 telah berada di sana.

Dari dialog Umar dan Saren Sudiro tersebut kita bisa memberi kesimpulan, bahwa Umar sebelumnya mengetahui operasi penculikan tersebut, tapi penculikan bukan untuk dibunuh.

Umar sebagai Panglima Kodam Jayakarta adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap penjagaan rumah para jenderal.

Lalu dimana jebakannya? Yaitu dengan diberikannya kemudahan akses tanpa hambatan kepada Cakrabirawa dalam menjalankan aksinya menyebabkan PKI yakin bahwa Soeharto dan kelompoknya telah terbina.

Hal inilah yang menyebabkan menjelang petang diumumkan telah dibentuknya Dewan Revolusi di RRI, berubah dari yang telah diumumkan di pagi harinya.

Hal tersebut dimungkinkan karena DN Aidit dan Syam sudah yakin gerakan telah berjalan sesuai rencana, karena tidak ada reaksi dari Angkatan Darat terhadap pendudukan mereka di RRI.

Sementara terjadinya perubahan dalam gerakan Untung menjadi kudeta menjelang petang, sementara itu pula perubahan-perubahan yang terjadi tersebut tidak dapat dimengerti oleh kader-kadernya di lapangan, sehingga menimbulkan kebingungan.

Ketidak-konsistenan sikap bukan saja menyebabkan kader-kader PKI yang sedang menunggu komando untuk sebuah gerakan serentak (1 Oktober) menjadi bingung tapi juga panik, akibat tidak terjadinya komunikasi yang efektif di antara mereka. Sehingga akhirnya mengambil jalan sendiri sendiri dan cenderung spekulatif.

Sementara itu setelah mendengar para jenderal dibunuh, Bung karno seketika memaki DN Aidit “Keblinger” yang artinya kurang lebih “bodoh dan kebablasan”.

Fakta berikutnya adalah Bung Karno ternyata tidak pernah peduli dengan dibunuhnya para jenderal, tidak datang ke Lobang  Buaya padahal posisinya sebagai presiden waktu itu legitimasinya masih amat kuatnya.

Bahkan Soekarno malah sibuk dengan penggantian posisi Almarhum Ahmad Yani, dengan mengusulkan tiga nama. Tapi tanpa ada nama Soeharto disitu, padahal Soeharto adalah panglima Kostrad, dialah orang yg paling berhak menggantikan posisi Ahmad Yani sebagai panglima Angkatan Darat. Pada situasi seperti ini, Bung Karno telah mulai menjadi serba salah.

(bagian 3 tamat)

Sementara dua batalyon Diponegoro 454 dan batalyon Brawijaya 350 diundang dengan posisi siap tempur dan persenjataan lengkap, tapi batalyon 328 kujang Siliwangi yang juga diundang tidak mendapat perintah yang serupa. Perintah tersebut disampaikan lewat radiogram pada 15 september 1965 No : T.220/9, dan diulang pada tgl 21 september 1965 No : T 239/9.

Pasukan Brawijaya dan Diponegoro tersebut diberangkatkan dalam tiga gelombang, yaitu tgl 25, 25 , 27 September 1965, dengan kendaraan organik dan kereta api.

Menarik untuk diketahui batalyon 454 Dipenegoro adalah batalyon yang pernah dipimpin oleh letkol Untung, dan para prajuritnya sebagian besar berasal dari laskar kiri dimasa revolusi. Dan diketahui pula kemudian ketika operasi RPKAD di Jawa Timur ternyata banyak anggota batalyon Brawijaya yang adalah anggota PKI.

Ada hal yang menarik pula, bila batalyon 454 Diponegoro datang langsung ke lapangan monas beberapa hari sebelum 30 September, tapi sebagian batalyon 530 Brawijaya ternyata turun di stasiun lemah abang Bekasi dan berjalan kaki ke Jakarta secara diam-diam.

Sebagian batalyon Brawijaya tersebut berhenti di gedung tinggi tambun, sebelum akhirnya dikepung tentara Kodim Bekasi dan rakyat.  Menyerah dan diserahkan ke Kostrad dan sebagiannya di pulangkan ke Jawa Timur.

Membiarkan ular berbisa merayap dan kemudian melibasnya ketika leher ular mendongak, tulah ilustrasi yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan PKI dan Soeharto ketika 1965.

Agresifitas PKI yang semakin tinggi di bawah perlindungan Soekarno menjelang 30 september 1965, adalah sebuah rangkaian eskalasi politik yg semakin memuncak, dan menandakan akan lahirnya di jabang bayi, yg kemudian kita sebut malam penculikan para jenderal.

Fenomena Soeharto? Adalah takdir tentang tampilan seorang jenderal yang terkesan kurang cerdas dan karenanya terabaikan, tidak diperhitungkan oleh PKI.

Bukan saja PKI yang under estimate kepada Soeharto, tapi juga kelompok-kelompok dalam Angkatan Darat seperti kelompok Nasution dan kelompoknya Ahmad Yani.

Undangan Soeharto sebagai Panglima Kostrad kepada dua batalyon siap tempur yang berindikasi PKI datang ke Jakarta, untuk perayaan HUT TNI 5 oktober 1965, menunjukkan dan menampilkan operasi intelijen yang paling canggih dalam sejarah kontemporer politik Indonesia ketika itu.

Karena dengan diundangnya dua batalyon tersebut memberikan sinyal kepada PKI bahwa Soeharto telah berada di pihaknya. Padahal seperti kesaksian Salim Haji Said dalam bukunya “Gestapu 65”, kedua batalyon tersebut diterlantarkan di Monas sehingga kelaparan tidak berdaya.

Tidak disiapkan logistiknya. Batalyon 454 Diponegoro dalam keadaan kelaparan mundur ke pangkalan udara militer Halim, sementara sebagian dari batalyon Brawijaya ditarik ke kostrad untuk diberi makan (Gestapu 65, Salim Haji Said, 173). “PKI terlambat menyadari keadaan!”.

Karena dengan tidak terjadinya pertempuran di pagi hari 1 oktober sebagai kode perang raya revolusi rakyat, maka gerakan tersebut menjadi bantut (petasan yg sumbunya terkena air .. tidak meledak).
.
Kekuatan pemuda rakyat dan PKI lainnya yang telah siap menggerakkan revolusi di Jakarta 1 oktober malam 1965, antara lain yang berada dan bertahan di Jakarta sejak ulang tahun PKI, 5 mei 1965 tidak kembali ke Jawa, ribuan gelombang-gelombang pemuda rakyat yang datang 30 September dari daerah basis komunis Subang dan Indramayu. Kemudian kocar-kacir seperti ayam kehilangan induk, menyelamatkan diri masing-masing.

Sebagai catatan pada malam 1 oktober pesawat tempur Angkatan Udara ber putar-putar di langit Jayakarta menunggu keputusan di bom tidaknya markad kostrad (Said, 2016).

Dari pesawat AU yang berputar tersebut, bisa dibayangkan tegangnya suasana ketika itu, dan juga betapa bingungnya PKI.

Revolusi PKI pun gagal total. Sampai disini jarum jam G30S/PKI berhenti, sedangkan terjadinya perburuan terhadap anggota-anggota PKI dan kejatuhan Prediden Soekarno paska kegagalan G30S/PKI, adalah isu yan berbeda lagi.

Komentar

komentar