Home » Opini » Hari-hari Mencekam (4)

Hari-hari Mencekam (4)

Komaruddin Rachmat

Pada 30 September 1965 rakyat Cakung terutama yang tinggal di pinggir jalan menyaksikan pemandangan yang tidak biasa, yaitu pergerakan massa mengenakan yang berpakaian hitam-hitam dan memakai ikat kepala berwarna merah. Kami tidak tahu dari kota mana gelombang massa itu datangnya.

Belakangan saya baru tahu setelah saya ketemu Kong Uthe di kedainya baru-baru ini di Jalan Kartini kota Bekasi. Kong Uthe mengatakan siapa gelombang masa tersebut sebenarnya. Kong Uthe nama aslinya adalah Soleh Muhtar mantan camat di Bekasi utara, kakak kelas saya di SMPN 1.

Kong Uthe bercerita kepada saya, ketika G30S/PKI terjadi, dia belum lama lulus sekolah rakyat (SR) di Subang, Jawa Barat.

Subang adalah terkenal sebagai wilayah basis komunis dengan buruh-buruh perkebunan yang mayoritasnya adalah anggota PKI.

Pada 29 september 1965 sore,  Kong Uthe kecil bersama ayah dan keluarganya sedang dalam perjalanan dari Subang ke Bekasi. Karena ayahnya baru saja pensiun sebagai Wedana Subang dan berniat kembali ke kampung halamannya, kota Bekasi.

Ketika di perjalanan menuju Bekasi itulah Kong Uthe menceritakan kesaksiannya kepada saya tentang masa berpakaian hitam-hitam dan ikat kepala merah tersebut. Menurutnya, massa tersebut keluar dari perkebunan sepanjang daerah Sagalaherang, Cagak, Subang, Kalijati, Purwakarta menuju Jakarta.

Setelah saya mendengar cerita dari Kong Uthe, barulah terang-benderang teka-teki tentang asal-muasal massa PKI yang melintasi desa kami pada 30 September 1965 ketika itu.

Masa tersebut datang seperti gelombang tidak pernah berhenti, ada pria dan wanita bertudung cetok seperti tentara Vietcong.

Asmari, teman yang usianya lebih tua dua tahun di atas saya, sengaja baru-baru ini saya temui untuk menyegarkan ingatan saya ke masa itu, mengatakan bahwa mereka itu adalah angkatan ke lima yang digagas DN Aidit sedang menuju Lobang Buaya untuk bergabung dengan sukarelawan dan pemuda rakyat yang sedang latihan militer.

Gelombang massa dengan pakaian hitam-hitam dan ikat kepala merah tersebut menjadi terasa mencekam setelah terjadi penculikan yang dikaitkan dengan gelombang massa pada 30 September tersebut.

Apalagi pada 1 Oktober malam ada pesawat tempur yang meraung-raung di atas udara cakung berputar putar tiada henti, menimbulkan suasana horor dan ketakutan rakyat Cakung termasuk saya yang lebih memilih tidur dari pada main.

Belakangan baru saya tahu dari buku Salim Said “Gestapu”, bahwa pesawat tersebut adalah pesawat Angkatan udara atas perintah Panglima Angkatan udara ketika itu Umar Dani, yang mengancam akan mengebom markas Kostrad, tapi tidak disetujui oleh Bung Karno bahkan dimarahi.

1 Oktober adalah masa yang paling mencekam bagi saya, karena saya melihat ketegangan di wajah ayah yang saya lihat tidak pernah berhenti merokok. Mendengarkan RRI sebagai satu satunya sumber berita yang efektif. Ketika itu sepanjang hari gencar menghujat Dewan Jenderal.

Di luar rumah juga terlihat tegang, orang orang tua melarang anaknya keluar. Saya melihat ayah membagi-bagikan pucuk senjata kepada teman temannya, dan mengatakan bahwa ini pasti pekerjaan “PKI!”. Saya hanya takut ayah saya di apa-apakan

Ketika massa PKI melintas pada 30 September 1965, sebagai anak kecil tentu kami senang melihatnya, melihat masa secara bergelombang berbilang ribuan memakai pakaian hitam-hitam dan ikat kepala merah, sedangkan wanitanya memakai tudung petani yang lebar, orang Cakung menyebutnya tudung leang.

Dalam periode itu, setiap pagi masuk dan pulang sekolah, kami menyanyikan lagu Nasakom, Genjer-genjer hingga hafal di luar kepala hingga sekarang. Kami juga diajarkan memukul drum band yang sampai saat ini saya belum mendapat konfirmasinya untuk apa.***

Komentar

komentar