ojk
Home » Headline » Pengkhianatan G30S PKI Film Sampah?

Pengkhianatan G30S PKI Film Sampah?

Oleh: Djoko Edhi Abdurrahman

Saya ada di Studio 41 Tendean Jakarta waktu film “G 30 S /PKI” dibuat oleh Arifin C Noor. Saya sempat menjadi Direktur Litbang Studio 41 sampai Dirut Studio 42 Mas Edy meninggal 2000. Dan Direktur Perum Pusat Film Negara (PPFN) G. Dwipayana juga meninggal.

Saya Wakil Sekretaris LPBH PBNU saat ini, tapi belum pernah dengar karir maupun kompetensi Imam Azis yang di PBNU mengurus kebudayaan, yang kemarin menyatakan film “G 30 S/ PKI” film sampah. Apalagi bikin film. PBNU sendiri belum pernah bikin film yang sutradaranya dari PBNU.

Saya baca Imam Azis yang juga di PBNU, mencaci maki film “G 30 S / PKI” yang disutradarai cineas Arifin C Noor sebagai film horor murahan di seantero medsos. Bukan budayawan, bukan film maker, bukan cineas, mencaci maki karya orang lain. Bagaimana membacanya ini bro Imam?

Perlu diketahui, Studio 41 dan film G 30 S / PKI Film G 30 S / PKI dirilis tahun 1984. Produsernya adalah PPFN (Perum Pusat Film Negara). Pelaksana produksinya adalah Studio 41, Tendean Jakarta Selatan. Tak kurang selama setahun riset dan hunting location dilakukan Mas Edy CS dan Arifin C Noor untuk menyusun naskahnya, skenario dan story board dengan metodologi jumping shoot.

Bersama dengan film “G 30 S / PKI” juga dibuat film “Jakarta 66”. Entah jadi apa Imam Azis waktu itu. Salah-salah baru mengaji kitab gundul. Belum ‘nyampe’ ke kebudayaan, apalagi bahasa kamera.

Studio 41 adalah studio pertama di Indonesia, didirikan oleh G Dwipayana, penulis naskah film “Si Unyil” yang juga Asisten Menteri Sekretariat Negara. Studio 41 adalah satu-satunya studio film (yang belakangan terkenal dengan Production House). IKJ (Institut Kesenian Jakarta), TIM diinisiasi dari Studio 41, dan tempat praktikum anak-anak IKJ.

Film “G 30 S / PKI” dibuat dengan kamera celluloid. Untuk memakai kamera ini, kameramen, sutradara, penulis skenario, harus paham bahasa kamera. Edit tak bisa dilakukan di Indonesia, umumnya di Ad Lab, Australia atau Hongkong. Mahal sekali.

Edit linier baru bisa dilakukan setelah PPFN membeli komputer Imix Family tahun 1990 an, bersistem mainframe. Operatornya terhitung dengan jari, hanya ada di Studio 41.

Bicara kualitas gambar, hasil celluloid jauh di atas kualitas digital sampai kini, karena sejumlah teknik celluloid tak dimiliki kamera beta maupun kamera digital. Juga penyusunan gambar yang kini tak menggunakan story board, sementara di Hollywood, story board masih prasyarat wajib hingga kini.

Arifin C Noor cineas terkemuka saat itu. Karyanya sangat termashur. Arifin juga penulis naskah teater, antara lain, “Umang-Umang”, “Sumur Tanpa Dasar”, keduanya menduduki juara naskah nasional.

Demikian mashurnya Arifin, sehingga penulis populer saat itu, Noorca mengganti namanya menjadi Noorca Marendra Massardi. Noorca berasal dari C Noor, sedang Marendra berasal dari Rendra. Sedang nama aslinya sendiri adalah Mas Ardi.

Noorca adalah 9 kali menjadi Pimred, terakhir Pimred Majalah Forum Keadilan di mana saya jadi Kapusdata Majalah Forum.

Arifin C Noor adalah sutradara pertama yang melakukan pengambilan gambar tanpa skenario dan story board di Indonesia. Karena itu, ia dijuluki cineas jenius. Dan nama Arifin C Noor peringkat teratas, baik wibawa, karya seni, maupun wawasan kebudayaan. Lainnya di bawah dia.

Ketika hari-hari ini karya Arifin C Noor dicaci maki sebagai sampah dan horror oleh budayawan PBNU Imam Azis, sudah pasti budayawan ini tak paham karya cinema. Niscaya Imam tersesat, juga ketika menonton film “Gladiator”.  Ingat, di naskah teater William Shakespeare, Brutus menikam Julius Caesar 14 kali. Tapi di fim itu kok dicekik? Jadi yang sampah yang mana?

Maka belajar pada sejarah. Dan kalau mau belajar sejarah, jangan dari film besar. Melainkan di dokumenter, buku sejarah. Bukan di film “G 30 S / PKI”. Ngawur berat.

Film itu memang film yang dibiayai oleh PPFN, berkisah tentang Presiden Soeharto. Versinya jelas menurut PPFN. Namun tak lantas film ini sampah atau horror.

Sampai kini, belum ada film sebaik karya Arifin C Noor itu. Kalau merasa hebat, buatlah film yang lebih baik dari karya Arifin C Noor. Sampai matahari terbit dari Barat, niscaya takkan mampu.

Jadi kalau marah kepada Panglima TNI yang memutar film itu, caci maki saja Jenderal Gatot Nurmantio. Tapi tak berani kan? Kurang nyalinya.

Dan saya percaya apa yang dikatakan isteri Arifin C Noer dalam ILC semalam ketika menyoal  film G 30S PKI. ‘Mbak’ Jajang membantah dengan mengatakan bila ketika membuat film ini Arifin diawasi atau dikontrol oleh rezim Orde Baru. Almarhum Arifin adalah orang merdeka dan punya oendirian. Sama dengan dia, saya tahu benar Arifin tak mungkin mengerjakan sesuatu yang tak ia yakini.

Jadi di mana salahnya film itu bro? Tolong tunjukkan kebenaran versi antum. Mana?

⁠*Djoko Edhi Abdurrahman, Mantan Direktur Litbang Studio 41, Mantan Anggota Komisi III DPR, Wasek LPBH PBNU.

Komentar

komentar