Home » Opini » Sketsa Muslim Kontemporer

Sketsa Muslim Kontemporer

Dr. UKAS SUHARFAPUTRA
Wakil Ketua ICMI Orda Kuningan

Mendiang Clifford Geertz, anthropolog-Indonesianis dari Amerika, pernah mengelompokkan Muslim Indonesia (khususnya Jawa) menjadi 3 kelompok, yakni santri, abangan dan priyayi. Itu atas dasar penelitian partisipatif menahun dia di Jawa pada masanya. Waktu berlalu, zaman berubah nampaknya pengelompokan muslim di negeri “out of the box” ini sekarang perlu dirumus ulang. Tumbuh varian-varian baru yang membuat konfigurasinya lebih beraneka warna.

Geertz cenderung memilah orang Islam atau muslim dalam arti tipikal—orang yang beridentitas resmi Islam dan atau mengaku diri Islam— dengan hanya melihat kriteria: “Bagaimana Islam dijalankan? Mungkin saat ini tidak cukup hanya dengan itu. Diperlukan pula pemilahan dengan melihat kriteria alternatif: “Apa pijakan yang dipakai dalam menafsir dan menjalankan Islam dan seberapa kuat keterikatan terhadap pijakan tersebut?” Mengingat saat ini rupa-rupa cara dan “jangkar” orang dalam menafsir dan mengejawantahkan Islam. Ada yang teguh penuh berjangkar pada sumber dan metode orisinal (Al Qur’an, Hadits, qiyas, ijma, dan lain-lain. Ada yg berpaling pada tafsir bebas filsafat, ada yang enjoy berpijak pada common sense olahan pribadi, ada pula yang tekun mengikuti arus guru-guru idola alternatif, dan lain-lain.

Pijakan atau acuan utama dalam menafsir dan menjalankan Islam yang dipakai muslim saat ini, bisa digambarkan seperti dua kutub yang saling berseberangan. Kutub pertama, ‘Acuan Baku Orisinal’ (ABO), yakni Al-Qur’an, Hadits, dan lain-lain, plus metode penetapan hukum Islam standard. ABO sudah menjadi rujukan dan metode baku yang dijalankan sejak masa-masa awal Islam. Prinsip utamanya adalah penafsiran dan praksis ber-Islam harus sama dengan yang dimaksud dan dipraktikkan oleh Rasulullah SAW.

Kutub kedua, ‘Acuan Nalar-Kreatif Anarkistik’ (ANKA). Acuan ini sepenuhnya berpijak pada penalaran kontekstual bebas atas dasar semangat berpikir bebas (seringkali sebebas-bebasnya). Mereka yang memegang acuan ini memandang Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW (acuan dasar Islam) sebagai teks yang tafsirnya terbuka bebas ke masa depan, relatif terhadap ruang dan waktu. Kelompok yang berada pada kutub ini sangat cenderung tidak mengindahkan dan sekehendaknya menabrak batas-batas standar (anarkis) ABO dalam menafsir-terap Islam. Kedua kutub tersebut bisa disketsakan sbb:

ANKA ._________________________. ABO

Pengelompokan Muslim terbentang dalam rentang spektrum di antara kedua kutub utama acuan ini. Rentang spektrum pengelompokan tersebut memiliki gradasi. Jika dilihat dari Kutub ABO (Kanan), maka karakteristik kelompok yang bergeser semakin ke kiri menunjukkan semakin longgar dan menjauh dari sumber-sumber standard Islam (Al-Qur’an, Hadits, Qiyas, dan Ijma). Sebaliknya, jika dilihat dari Kutub ANKA, semakin mendekat dan kuat mereka masuk pada tafsir bebas menggunakan acuan nalar kreatif (aqliyah) dan atau meminjam paket2 narasi besar akal yang sudah mapan, seperti Liberalisme, Sosialisme, Marxisme, Etnosentrime, dll.

Berdasarkan kerangka pengelompokan di atas, kira-kira secara kasar bisa dibuat sketsa pemetaan berbagai kelompok karakteristik muslim, yakni: Muslim Radikal, Muslim Frontal, Muslim Tradisional, Muslim Nominal/Residual, Muslim Primordial-Lokal dan Muslim Liberal.

Muslim Radikal
Tipe ini merujuk pada ABO dengan sangat ketat dan kuat. Sehingga memiliki kecenderungan kuat sangat tekstual dalam menafsir dan melaksanakan Islam. Katagori ini sangat menjunjung tinggi kemurnian dan kesamaan praksis ber-Islam dengan semua praksis yang dilakukan Rasulullah SAW. Kelompok ini memiliki orisinalitas paling tinggi, dalam arti praktik menjalankan Islam mereka adalah yang paling mirip dengan praktik Rasulullah SAW, terlepas dari perbedaan khilafiyah (sekunder) di antara sesama mereka.

Mereka yang ada dalam kelompok ini menempuh radikalisasi tapi tdk mengalami “terorifikasi”. Dua konsep yang sering dipertukarkan dan disalahkaprahi. Radikalisasi diartikan sebagai mencari Islam hingga sampai asal dan akar terdalamnya dalam gelora ghirah untuk memeluk dan menjalankannya secara orisinal dan total (kaffah). Oleh karena dalam ABO Islam tidak dikenal nilai agresif destruktif yg bersifat melenyapkan orang lain yang berbeda, kelompok ini menjadi taat dan Islamis ketat tanpa menjadi orang-orang yg ter-terorrifikasi atau menjadi teroris dalam pengertian umum sekarang ini. Mereka hanya sering jadi kambing hitam, tertuduh sebagai potensi teroris dari pihak-pihak yang sengaja atau tidak sengaja menyalahkaprahi kedua konsep tersebut. Kelompok ini mengalami perkembangan yang pesat akhir-akhir ini yang secara jelas terlihat dari fenomena aksi bergelombang pada Pilkada DKI tempo hari.

Muslim Frontal
Kelompok ini sangat mungkin memiliki ghirah dan maksud untuk kembali dan mengacu pada ABO. Namun demikian, diperjalanan mengalami “terorrifikasi”. Nyala ghirah ke-Islaman mereka ditelikung ke arah tafsir-tafsir maut, yakni tafsir yang menciptakan musuh-musuh niscaya yang harus dihancurlenyapkan secara fisik tanpa ampun. Sangat mungkin massa kelompok ini adalah orang-orang polos yang termanipulasi oleh kekuatan politik global ambisius yg menggunakan jubah Islam. Yang bahkan maksudnya adalah mendiskreditkan Islam. Kelompok ini adalah kelompok mematikan (lethal), yang atas nama Islam dan jalan jihad melakukan penggancuran dan pelenyapan fisik secara membabi buta terhadap pihak-pihak yg dianggap sebagai musuh.

Muslim Tradisional
Kelompok ini mengakui merujuk pada ABO. Hanya saja pendekatannya sangat kental dengan pola paternalistik yg menempatkan sekelompok terbatas religious opinion leader dan ajaran-ajarannya sebagai pusat rujukan. Pemahaman dan praksis Islam dianut dan dijalankan dalam kerangka pemanutan (taqlid) secara turun-temurun. Pendekatan “madzhabi” menjadi ciri pokoknya. Dari 4 madzhab besar, madzhab Imam Syafi’i ra. adalah acuan paling dominan.

Kelompok ini memang menempati posisi mayoritas dalam Muslim Indonesia. Mereka sangat kuat mengidentikkan diri dengan label Muslim Ahlussunah wal Jama’ah. Muslim yg terhimpun dalam Jama’ah NU dan Muhammadiyyah menempati bagian yang terbesar dari kelompok ini. Dalam tipologi Geertz, kelompok ini mungkin masuk dalam katagori santri.

Mjuslim Nominal-Residual
Dalam spektrum ABO-ANKA, kelompok ini berada kurang lebih di tengah-tengah. Mereka adalah kerumunan Muslim “sekedar tanda pengenal atau pembeda identitas.” Islam bagi mereka cenderung ditempatkan as administrative code only. Mereka adalah sisa-sisa (residu) dari perebutan pengaruh kutub ABO dan ANKA yang tidak sepenuhnya terkooptasi oleh masing-masing kutub tersebut. Sebagian ada yang lebih condong ke ABO, sebagian lain lebih condong ke ANKA. Namun, nampaknya lebih banyak yang mendekat ke sisi ANKA.

Oleh karena tidak ada ghirah untuk mencari pendasaran mendalam atas keberagamaan, praksis beragama mereka cenderung dilakukan sekedar rutinitas ritual minimal. Kelompok ini sangat cenderung menafsir Islam dan praksis-praksisnya berdasarkan penalaran-penalaran rasional individual (common sense subjektif). Dalam menalar dan diskusi mereka, tdk hadir elaborasi yg radikal menukik dalam pada dalil dan pendekatan ABO. Juga tidak ada pendalaman aqliyah-filosofis yang analitis dan tajam yang jadi ciri pengusung ANKA. Rasionalisasi Ke-Islaman kelompok ini umumnya berupa logika dan rasionalitas awam yang menjadi bumbu perbincangan umum, yang seringkali berujung pada debat kusir keringatan. Dalam pengelompokkan Geertz, kelompok ini nampaknya masuk katagori Muslim “Abangan”.

Muslim Primordial-Lokal
Kelompok ini jumlahnya relatif paling sedikit. Bahkan mungkin hampir tak kelihatan. Namun, cukup awet bertahan dan memiliki pangsa sosialnya sendiri di tengah masyarakat Muslim. Kelompok ini menggunakan nalar bebas dalam menginterpretasi Islam. Namun, Karakter penalarannya bukan berkiblat pada rasionalitas logis modern, nang menjangkarkan diri pada narasi-narasi besar filosofis Barat dan para pemikir besarnya (Sekularisme, Liberalisme, Sosialisme, Marxisme, dll.). Gaya nalarnya berjangkar pada “primordialitas lokal” yakni nilai-nilai dan norma archaik lokal yg sudah mengkristal dan dianggap menjadi jati diri budaya lokal.

Secara aqliyah mereka cukup “anarkistis” untuk menafsir ulang hampir secara total praksis Islam dengan sepenuhnya menggunakan terang rasionalitas kearifan primordial-lokal. Perangkat ABO hampir tidak dilirik sebagai acuan. Sumber kearifan primordial tersebut beragam, tergantung pada kerangka budaya lokal mana yang dijadikan cahaya penerang. Budaya Jawa (Kejawen) dan Budaya Sunda (Wiwitan) adalah dua sumber primordial lokal yang cukup menonjol. Aliran Kebatinan mungkin termasuk bagian yang cukup menonjol dari kelompok ini.

Karena corak dasar nilai dan spiritualitas lokal itu umumnya mengagungkan isi atau esensi, dan cenderung abai pada hal-hal yang dianggap kulit luar, maka dengan nalar subjektif yang canggih mereka menafsir-terap Islam sedemikian rupa, sehingga kerangka praksis ritual-nya ditanggalkan satu-persatu di satu sisi, dan esensialitasnya “di-setting ulang” diisi dengan nafas kearifan primordial. Maka tidak aneh dari kelompok ini, contohnya, lahir konsep sembahyang tanpa harus sholat, cukup eling saja. Karena bagi mereka di situlah esensinya. Selebihnya, ritualitas teknis hanyalah sekunder yang bisa ditinggalkan, dianggap tidak penting. Dewasa ini, nampaknya kelompok ini mendapat angin cukup baik, dengan hadirnya figur publik muslim yg punya komitmen dan kegandrungan kuat terhadap ritual dan spritualitas leluhur lokal. Pak Dedi Mulyadi yg saat ini mulai moncer dalam Pilgub Jawa Barat, mungkin bisa jadi contoh kuat figur dimaksud, yang memiliki kegandrungan primordial-spiritual kesundaan yang sangat kental.

Muslim Liberal
Ini adalah kelompok yang ada pada ujung terjauh pada Kutub ANKA. Kreatifitas-anarkis nalar kelompok ini memang berada pada puncaknya. Mereka adalah kelompok yang merasa “bebas” dan ingin melakukan “pembebasan” dalam menafsir-terap Islam dari arus standar orisinal yg ada (ABO). Mereka menafsir Islam lebih jauh ratusan langkah dari gaya tafsir kontekstual, apalagi tekstual. Gaya mereka adalah “tafsir situasional”. Dalam gaya tafsir ini, hukum dan ketentuan agama yang mereka putuskan sangat cenderung menjadi pengesah dan pengukuh setiap fenomena yang sudah diterima sebagai gejala umum. “Fatwa” bukan lagi sebagai alat kontrol dan koreksi atas perilaku ummat agar kembali ke khittah baku. Sebaliknya, fatwa itu malah dijadikan sebagai legitimasi atas suatu gejala sosial yang sudah dianggap lumrah agar menjadi khittah baru dalam situasi baru.

Jika dianalogikan dengan orang yang berlari dalam batasan pagar. Kalau Kelompok yang menggunakan tafsir tekstual dan kontekstual masih berusaha keras disiplin utk berlari di dalam pagar dan tidak menabrak pagar. Kelompok ini malah berlari dengan membawa-bawa pagarnya sekalian ke manapun mereka mau berlari. Walhasil semua tempat selalu berada dalam pagar, dan takkan pernah terjadi menabrak pagar.

Karakteristik kelompok ini terbentuk tidak terlepas dari pengaruh narasi-narasi besar filosofis yang mereka rujuk dan idolakan. Paket-paket ideologis siap saji seperti Sekularisme, Liberalisme, Sosialisme, Marxisme dan lain-lain yang berkembang sejak filsafat Barat modern lahir melalui Rasionalisme Rene Descartes, jadi alternatif pijakan mereka dalam memaknai Islam. Mereka “tidak memberikan kesempatan pada Islam untuk menjelaskan dirinya sendiri”. Alih-alih membiarkan Islam menjelaskan Islam itu sendiri—-apalagi menggunakan terang Islam untuk menilai-maknai paket-paket ideologis tersebut, mereka malah menggunakan paket ideologis siap saji tersebut untuk memaknai dan mengevaluasi Islam. Mungkin bisa dianalogikan: bukannya meteran yg digunakan alat untuk mengukur dan menggunting kain, tapi justru panjang kain yang dijadikan patokan untuk memotong-motong meteran.

Lebih jauh, perkembangan filsafat modernisme dan post modernisme yang antara lain ditandai munculnya Hermeneutika Gadamerian dan Dekonstruksionisme Derridean semakin melipatgandakan semangat “nalar anarkistis” kelompok ini dalam melihat Islam. Di bawah panji keterbukaan makna teks terhadap ruang dan waktu dan “matinya sang pengarang” sehingga tak berkuasa lagi memonopoli makna. Mereka menempatkan teks-teks ABO Islam sebagai teks bermakna sangat terbuka yang mengalir bebas ke masa depan dalam arus besar ruang dan waktu. Dalam kendali semangat ini, tak heran muncul tafsir terjun bebas hampir tanpa batas terhadap teks Al Qur’an dan Hadits. Bahkan tak segan, sebagian dari mereka berani menyatakan bahwa ayat Al Qur’an tertentu sudah tak relevan dengan zaman. Mungkin masih segar dalam ingatan, bagaimana Nusron Wahid bicara dengan enteng dan lantang tentang tak adanya tafsir yang ajeg atas QS. Al Maidah 51. Ini adalah salah contoh tipikal pandangan kelompok ini.

Muncul dan berkembangnya kelompok ini juga berhubungan dengan dua situasi psiko-sosial umum yg melatari mereka. Di satu sisi, mereka umumnya belum mereguk secara memadai pembelajaran atas sumber-sumber standar dan klasik kajian Islam yang berjangkar pada ABO, dan langsung terjun mereguk pemahaman dari berbagai paket narasi besar ideologis Barat yang azalinya sudah minor bahkan menafikan agama. Di sisi lain, sebagai Muslim mereka menderita sindrom inferioritas (rendah diri) saat berhadapan dengan kemilau kemajuan modernitas Barat beserta perbendaharaan narasi-narasi besar ideologisnya yang mereka anggap superior.

Dalam latar seperti ini dan dengan sikap yang cenderung kurang kritis, mereka langsung melekatkan kecintaan intelektual mereka terhadap narasi-narasi ideologis tersebut dan menjadikannya hampir-hampir sebagai jangkar, bahkan “kredo” atau “worldview” dalam menilai segala sesuatu termasuk Islam, tempat mereka melekatkan status administratif pribadi mereka.

Demikian kira-kira sketsa umum pengelompokan Muslim dewasa ini. Dimanakah tempat kita? Silahkan cek masing-masing. Jika tidak termasuk salah satu darinya, daftar pengelompokan di atas terbuka untuk disusun ulang. Salam berfikir, salam berdiskusi! Wallahu a’lam bisshawab. []

Komentar

komentar