Home » Opini » The Origin of Capitalism

The Origin of Capitalism

Green Economist

Oleh Dr. UKAS SUHARFAPUTRA
Wakil Ketua ICMI Orda Kuningan

Secara etimologi, kapitalism berasal dari bahasa lati ‘capitale’ yang berarti ternak unggas (livestock). Dalam kehidupan masyarakat Eropa kuno ‘capitale’ dianggap sebagai aset berharga untuk kesejahteraan ekonomi keluarga. Hewan ini ditransaksikan dengan dihitung per kepala (caput=kepala). Sebagai istilah, kapitalisme muncul belakangan. Yang lebih dulu mengemuka adalah istilah “capital (Kapital)” dan “capitalist (Kapitalis)”.

Istilah kapital awal digunakan oleh Adam Smith (abad 18) dalam bukunya Wealth of Nation, yang berarti simpanan persedian dari hasil produksi (inventory) yg kemudian berkembang dimaknai sebagai “produced means of production” (alat produksi yg dioroduksi). Contoh mesin; dibedakan dari alat produksi yang tidak diproduksi, seperti lahan dan tenaga kerja.

Istilah Kapitalis pertama dimunculkan oleh Karl Marx, terutama dalam buku fenomenalnya “Das Capital”. Dalam olahan Marx, istilah Kapitalis tidak hanya bersifat ekonomis, namun sangat berbau ideologis-politis. Istilah ini menunjuk pada kelompok pelaku ekonomi yang menguasai infrastruktur produksi sedemikian rupa, sehingga salah satu akibatnya memaksa tenaga kerja alamiah yang semula bekerja untuk diri dan hidupnya, menjadi hanya sekelompok buruh yg bekerja demi upah untuk menghasilkan surplus produksi yg dinikmati kelompok penguasa ekonomi tersebut (kaum Kapitalis).

Kapitalisme adalah istilah yang menunjuk pada pola perilaku dan interaksi ekonomi (Sosiologi Ekonomi) tertentu, yang mula-mula dimunculkan dan dibahas secara akademik oleh “Werner Sombart” pada penghujung abad 19 (lihat Revolusi Kapitalis, Peter L Berger, 1985).

Istilah ini menunjuk pada perilaku sosial-ekonomi baru di eropa yg mulai muncul pada pertengahan abad 14. Perilaku produksi ekonomi Eropa lama yang hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten) mulai berubah digantikan oleh perilaku produksi baru yang diarahkan pada menjual produk di pasar untuk mencari profit.

Perilaku ini pertama muncul dgn munculnya “gilda”. Gilda semacam usaha mikro masyarakat eropa tempo dulu yang berorientasi menjual ke pasar. Kapitalisme dalam konteks ini didefinisikan sebagai “perilaku atau kegiatan ekonomi yang ditandai oleh adanya orientasi mencari untung (profit) dengan melakukan pertukaran (jual-beli) di pasar (pasar dalam arti sistem aktifitas bukan sekedar tempat).”

Merujuk pada definisi ini, maka kapitalisme sebenarnya merupakan konsep generik yg tidak hanya ditemukan di Barat (Eropa dkk). Oleh karena perilaku ekonomi yang berorientasi pada keuntungan dan pasar hampir ada pada semua budaya bangsa-bangsa di dunia (hanya kadar kemassifan dan kemunculannnya yg tidak sama), maka kapitalisme mestinya merupakan fenomena yg umum ada pada semua masyarakat. Mungkin benar yg dikatakan oleh Prof. Didik J. Rachbini (1998), bahwa kapitalisme dengan pasar sebagai ciri intinya, bukanlah konsep khas Barat, oleh karena semua bangsa besar atau kecil memiliki institusi pasar.

Namun sejarah (sosial ekonomi), bukanlah sekedar kumpulan fakta berurut waktu (kronologis), namun juga berkaitan dengan kehendak berkuasa dari “sang penutur” sejarah. Sebagaimana dimaklumi, sejarah dunia saat ini berada dalam genggaman Barat sebagai sang penutur. Dan karenanya demikian pula isi, makna dan arah dari sejarah Kapitalisme juga berada dalam plot mereka.

Kapitalisme sebagai gejala yg membawa perubahan radikal sosial secara menyeluruh dan berkelanjutan, menurut shahibul sejarah sang penutur, hanya berlangsung di Barat, tidak terjadi di belahan bumi lainnya. Oleh karenanya, Barat lah satu-satunya pihak yang boleh mendapat kredit atas munculnya fenomena ini utk kemajuan ummat manusia. Padahal pertanyaan skeptis-kritis masih bisa muncul, benarkah?

Richard Leakey (2002), antropolog-paleontolog Barat kontemporer mengemukakan bahwa kota pertama di planet bumi muncul 5000 tahun yang lalu sejak itu bermunculan beragam kota dan peradaban puncak dunia dari mulai Mesopotamia, Mesir Kuno, Aswan, Mohenjo daro-harafa, China, Persia, Inca, dan lain-lain dalam rentang panjang masa kuno.

Sebagaimana menjadi ciri suatu kota dan peradaban, pada masing-masing peradaban di masing-masing zamanya itu, pasar, perdagangan dan mencari laba dengan formatnya masing-masing sudah menjadi gejala umum. Selain itu pada masing-masing juga terjadi perubahan radikal sosial menyeluruh yang membuat peradaban-peradaban itu pernah menjadi pusat dunia pada zamannya masing-masing (kurang lebih seperti Barat dewasa ini).

Lalu mengapa tidak dipertimbangkan juga sebagai sumber dari kapitalisme dalam pengertian di atas. Padahal nyata-nyata mereka jauh lebih awal ribuan tahun memperlihatkan gejala relatif sama dibandingkan peradaban Barat modern yang baru berkecambah 400-500 tahun yang lalu. Dan lebih riskan lagi, kesilauan terhadap Kapitalisme Barat minded ini seringkali disertai “kemenutupmataan” terhadap banyaknya dampak buruk “Kapitalisme format Barat” terhadap kesejahteraan masyarakat akar rumput yg berada pada lapisan ekonomi terbawah. Wallahu’alam bisshawab.

Komentar

komentar