Home » Headline » Man, the Paragon of Rationality

Man, the Paragon of Rationality

Oleh Dr. Ukas Suharsaputra
Wakil Ketua ICMI Orda Kuningan

Benarkah manusia bisa memiliki rasionalitas paripurna? Rasio (nalar) dan emosi (rasa) bukanlah pedang dan sarungnya yang kapan saja bisa disatukan dan dipisahkan sekehendak. Nalar dan emosi lebih seperti air dan gula yang bersenyawa dalam secangkir teh hangat manis proses berfikir. Tak mungkin memisahkannya.

Ketika bernalar ada rasa terlibat, ketika merasa ada nalar melekat. Bahkan ketika berfikir statistikal-matematis sekalipun. Yang bisa dilakukan hanyalah mengatur kadar relatif satu sama lain. Mengisolasinya secara mutually exclusive tidak mungkin.

“Jangan emosi, berfikirlah jernih!” teguran terhadap teman yang sedang marah. Ini lebih bermakna sebagai “perkecillah kadar emosimu dan perbesarlah kadar nalarmu”. Kesenyawaan nalar dan rasa adalah kodrati. Kepaduannya tidak bersifat mekanis (nempel) melainkan bersifat organis (larut).

Lebih radikal lagi, bahkan dalam lingkup ekonomi, keputusan orang lebih banyak ditentukan oleh “rasa yg beraroma nalar” daripada oleh “rasionalitas ekonomi penuh” sebagaimana yg diasumsikan ilmu ekonomi standar. Keputusan (ekonomi) seseorang sekarang dilakukan oleh diri yg sedang mengalami sekarang (experiencing self), namun rujukannya adalah pada diri yang mengingat pengalaman-pengalaman masa lalu (remembering self), karena keputusan saat ini tentu lebih banyak didasarkan pada pengalaman faktual masa lalu.

Celakanya prinsip berfikir experiencing self dengan remembering self sangat berbeda. Experiencing self menghendaki dipenuhinya prinsip maksimasi kegunaan/kepuasan (maximizing utility). Ini prinsip standar rasionalitas ekonomi. Sedangkan remembering self memegang prinsip “pilihlah yang memberi kepuasan puncak dan kepuasan akhir tertinggi (Peak-End Rule).

Jika seseorang diberi cemilan coklat satu kali sehari selama lima hari berturut-turut dengan kadar (skala) kenikmatan 6 poin. Di akhir, nilai total kenikmatannya adalah 30 poin (Perlakuan A). Selang waktu kemudian diberi lagi makanan sama dalam jumlah hari sama namun dengan kadar kenikmatan berbeda, yakni 1 poin pada hari ke 1,2 dan 3; 8 poin pada hari ke-4; dan 10 point hari ke 10.

Diakhir, nilai total kenikmatannya adalah 21 poin (perlakuan B). Setelah semua perlakuan itu dialami dan orang itu ditanya: Perlakuan manakah yang akan dia pilih jika diberi kesempatan untuk mengulang lagi? Kebanyakan menjawab “perlakuan B”.

Jika memegang postulat ekonomi standar, seharusnya prinsip rasionalitas ekonomi yg berlaku: maximizing utility, yg dipakai. Maka Pilihan harusnya jatuh pada perlakuan A, karena itulah yang memberi total kepuasan tertinggi. Namun karena keputusan ekonomi riil dunia nyata merujuk pada remembering self yg memegang prinsip peak-end rule jadilah perlakuan B yang dipilih walaupun memberi nilai total kepuasan lebih kecil.

Remembering self tidak peduli pada kalkulasi integral nilai total tertinggi kenikmatan dan penderitaan. Dia hanya terkesan dan akan mengingat kejadian-kejadian yang memberi kenikmatan tertinggi pada titik waktu tertentu dan kejadian terakhir.

So, ilmu ekonomi standar telah menerapkan asumsi salah tentang hakikat perilaku ekonomi manusia, khususnya terkait rasionalitas murninya. Lalu, bagaimana bisa teori-teorinya bisa dianggap kredibel? Mungkin sudah saatnya buku teks ekonomi dibongkar dan dibangun ulang. Tentu kita boleh tidak sependapat.

Inilah kira-kira sari dari pemikiran Daniel Kahneman dalam buku spektakulernya Thinking Fast and Slow karena penelitian menahun dan karyanya dalam Psikologi Kognitif dan Behavior Economics, beliau dianugerahi Hadiah Nobel. Penghargaan paling bergengsi di kalangan ilmuwan. Wallahu ‘alam bisshawab. []

Komentar

komentar