Home » Opini » Makrifat Kata

Makrifat Kata

Oleh Fathorrahman Fadli

Bagaimana wajah dunia jika tanpa kata-kata?
Apa yang terjadi jika kata-kata itu tidak lagi meluncur dari mulut kita semua? Aha…..apa kata dunia?

Pertanyaan pendek itu sekilas tak berguna. Tapi jangan kita remehkan, sebab kata-katalah sesungguhnya yang menggerakkan dunia. Kata yang beragam dan berulang itulah yang membuat dunia ini hidup. Semakin banyak kata yang terucap; dunia terasa semakin hidup. Tanpa kata-kata dunia akan sepi. Semua orang membisu. Anda mau dunia membisu? Jelas tidak, bukan? Dunia harus kita biarkan berkata-kata.

Kata-kata selalu bermanfaat jika diucapkan. Tak peduli kata itu baik atau buruk. Ia akan tetap bermanfaat untuk membuat dunia ini dinamis. Ambil contoh kata-kata Ahok yang meluncur begitu rupa lalu menyakiti hati Umat Islam se-dunia. Kata-kata itu yang membuat muslim tersadarkan bahwa ia telah lama menjauh dari al-Qur’an; kitab suci yang syarat dengan obat kehidupan.

Tanpa kehadiran kata-kata yang ngawur dari Ahok itu mungkin tak ada tiket pesawat yang laku dari berbagai daerah di Indonesia saat Aksi Bela Islam (ABI) 1, 2, 3, 4 itu. Juga tak ada ribuan bis yang tersewa untuk mengangkut jutaan manusia untuk membela keagungan al-Qur’an. Juga tak mungkin tercipta kesadaran umat untuk membangun Koperasi 212, bukan?

Energi Kata
Kata itu memiliki energi tersendiri. Kata-kata yang baik kerapkali melahirkan efek positif. Sedangkan kata yang tidak baik membuahkan energi negatif. Walaupun demikian gejolak kata akan melahirkan ledakan energi yang melimpah. Itulah yang saya sebut dengan quantum kata. Dengan kata-kata yang tepat dan diucapkan pada saat dan momentum yang tepat akan melahirkan tenaga yang berlimpah. Misalnya begini; di saat Anda masih remaja, di mana hormon testosteron Anda sedang melimpah; begitu beratnya Anda mengucapkan satu kata cinta pada gadis yang Anda puja, bukan?

Namun apabila kata itu diluncurkan dengan rudal kasih sayang pada saat yang tepat dan orang yang tepat, betapa kata cinta itu berubah menjadi energi yang sangat dahsyat. Karena energi cinta mampu mengubah segalanya. Oleh karena itu seringkali kita dengar ungkapan, “Kalau sudah cinta, tahi kucing pun terasa coklat”.

Sama juga dengan kelakuan para pendukung fanatik pasangan calon dalam pilkada. Karena saking cintanya mereka mau melakukan apa saja demi kemenangan kandidat kesayangannya. Walau kadang mereka tampak kelihatan lucu dan naif. Tapi itu tetap mereka lakukan, bukan? Itulah kehebatan kata-kata.

Kata-kata itu memiliki fungsi yang kira-kira sama dengan musik yang hadir ke dunia. Anda bisa bayangkan, bagaimana sepinya dunia tanpa musik. “Dunia tanpa musik, rasanya kurang asyik,” demikian kata Bang Haji Rhoma Irama.

Oleh karena itu orang sekelas Chappy Hakim, meski ia seorang tentara yang bergulat dengan dunia yang keras, ia sangat menyukai musik. Begitu pula Gus Dur yang selalu menyenangi musik klasik ala Beethoven atau Nat King Cole. Juga guru politik saya Prof. Salim Said di mana musik dan film menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya.

Dan jangan lupa, musik itu adalah susunan kata-kata. Karena ia susunan kata-kata, maka ia tidak berdiri di dalam ruang hampa udara. Ia mengandung nilai yang isoterik. Menyatu dengan keinginan dan suasana bathin manusia. Musik membuat orang menjadi kreatif dan lentur menjalani kehidupannya. Musik juga membuat hidup ini relax; tidak tegang. Ia mengendorkan urat saraf setelah lama berperang dengan kerasnya dunia manusia. []

Komentar

komentar