Home » Headline » Anies-Sandi: The Gen X Two Men (2)

Anies-Sandi: The Gen X Two Men (2)

INDRA J. PILIANG (republika)

Indra J Piliang
Sang Gerilyawan Batavia

Tujuh minggu lagi, akankah DKI Jakarta dipimpin oleh gubernur yang lama ataukah gubernur yang baru? Siapakah sosok yang dikehendaki oleh mayoritas pemilih di DKI Jakarta?

Adakah orang Indonesia yang tidak terpukau dengan segala sesuatu yang berbau Jakarta? Tentu, ada. Yakni mereka yang memilih untuk tak menetap di Jakarta, sekalipun tiap pekan hadir di Jakarta mengisi beragam rutinitas. Bahkan, tiap hari, terdapat sekitar 2 Juta orang yang bolak-balik keluar-masuk Jakarta. Mungkin lebih. Pun jutaan kendaraan. Belum habis polusi yang ditinggalkan malam hari, datang lagi polusi baru pagi harinya. Polusi dalam beragam bentuk: udara, suara, dan mata.

Tak heran, pada periode DPR RI 2009-2014, lahir Undang-Undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Ditengarai oleh para ahli kesehatan jiwa, betapa hampir semua penduduk Jakarta tidak sehat jiwanya – termasuk saya –. Hanya saja, tingkat kesehatan jiwa itu berbeda-beda, dari yang paling ringan seperti stress, hingga yang paling berat berupa kegilaan. Jakarta, dalam skala ringan hingga berat itu, adalah rumah sakit bagi sekitar 9 Juta manusia dewasa.

Ada sejumlah nama yang melekat untuk kota terbesar di Indonesia ini. Dari Bandar Sunda Kelapa sebagai tempat berlabuh bagi kapal-kapal layar dari seluruh penjuru Nusantara, hingga kapal-kapal dagang dari Eropa. Pun sebutan lain, yakni Batavia, Jacattra dan segala macamnya. Sunda Kelapa, diartikan sebagai daerah kerajaan Sunda dengan banyak pohon kelapa. Pohon kelapa tumbuh di bibir pantai yang asri, kini hampir tak ada lagi.

Tanpa Sunda Kelapa yang menjadi pelabuhan dagang kerajaan Galuh Pakuan, Padjajaran ini, kota besar ini mungkin hanya muara bagi 13 sungai yang berkalang rawa-rawa dan terbelah sungai dangkal menuju muaranya. Pelabuhan yang berada di muara, membuat bagian rawa-rawa itu tak lagi halaman belakang, melainkan halaman depan. Dari pelabuhan Sunda Kelapalah tamu-tamu Nusantara dan Mancanegara datang. Museum Fatahillah adalah lanskap indah yang masih tersisa, sebagai kantor gubernur Jawa Barat.

Ya, Jakarta yang kini angkuh, mendikte kehidupan publik dari segala jenis pemancar radio, televisi, hingga jaringan media massa lainnya, sebelumnya hanya wilayah yang kecil saja. Istana Negara dan Balaikota sudah sangat jauh di belakang garis demarkasi Sunda Kelapa yang sepelemparan batu dari Museum Bahari di Pasar Ikan. Tanjung Priok – yang berkembang menjadi pelabuhan besar – adalah pelabuhan kedua yang belum begitu menarik. Jakarta yang menggurita, telah menelan kawasan Jawa Barat dalam jumlah yang berkali-kali lipat daripada induknya. Berbeda dengan daerah-daerah yang kian hari kian pecah, hingga ke level nagari, distrik atau desa, Jakarta justru meluas menembus batas-batas sejarah.

Pun, dengan kehandalan teknologi yang dimiliki, pusat arah Satelit Palapa, Jakarta juga menerkam Indonesia. Padahal, kala diresmikan pada tahun 1975, Satelit Palapa ditujukan untuk menyambungkan antara Irian Jaya hingga Pulau Weh di Aceh. Nama Palapa juga diambil dari sumpah Mahapatih Gajah Mada yang tak akan menghirup kesenangan duniawi, jika Nusantara belum berhasil disatukan. Apa lacur, setelah 40 tahun, bukan Satelit Palapa yang menjadi persoalan, tetapi cara manusia-manusia Indonesia yang berada di Jakarta menggunakannya.

***

Publik Jakarta sudah melihat, dalam pekan-pekan menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, bagaimana cara berkampanye ketiga pasang calon. Dari ketiganya, cara Anies-Sandi yang terlihat paling manusiawi.

Bahkan, dalam kedatangan ke markas Front Pembela Islam di Petamburan, Anies mengatakan betapa pembangunan manusia sama sekali kurang mendapatkan sentuhan. Ya, bicara soal kemanusiaan adalah bicara hal-hal yang terkesan normatif, abstrak, bahkan kadang disebut sebagai nihilisme semata.

Sosok yang paling banyak bicara itu adalah almarhum Soedjatmoko. Jika Anies hanya sebatas Rektor di Universitas Paramadina, Soedjatmoko pernah menjadi Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jepang. Soedjatmoko juga yang menjadi inspirator dan kawan berpikir almarhum Soe Hokgie, sosok demonstran angkatan 1966 yang lebih memilih menjadi dosen biasa, ketimbang bergelimang dengan jabatan-jabatan politik dan pemerintahan.

Barangkali, tema keseluruhan dari kampanye Anies adalah soal-soal kemanusiaan ini. Anies dalam berbagai kesempatan mengatakan betapa: p e m b a n g u n a n m o d e l A H O K f o k u s k e p a d a B E N D A M A T I. Apa yang dikatakan Anies juga menjadi keresahan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, kalangan intelektual perkotaan, hingga sebagian kecil kelompok kritis yang mendalami masalah-masalah perkotaan. Hanya saja, sebagai kelompok kritis, tentu saja terdapat kesulitan dalam berhimpun menjadi satu kekuatan politik.

Kekuatan politik, ya, kekuatan politik. Kekuatan sosial, ya, tentu tetap sebagai gerakan sosial. Pun kekuatan ekonomi, akan sulit sekali dijangkau menjadi kekuatan politik utama, tatkala konsep pembangunan manusia yang berbeda dengan benda mati bakalan membuat ekonomi kerakyatan menggeliat.

Bahkan, bagi Generasi X yang lahir antara 1965 hingga 1980, kata-kata manusia juga masih terdengar abstrak. Padahal, buku Soedjatmoko berjudul “Dimensi Manusia dalam Pembangunan” termasuk buku yang sangat laris dibaca, didiskusikan dan dibahas oleh Generasi X ini. Generasi X ini juga yang terkenal dengan aktivitas-aktivitas kemanusiaan sepanjang tahun-tahun pergantian abad. Sebagian di antara mereka sedang berada di luar negeri, tatkala angin demokrasi berhembus kencang dan menjatuhkan Presiden Soeharto. Sebagian yang lain berada di garda depan perubahan, tetapi tak mengambil sikap sebagai generasi yang fatalis dan revolusioner yang berdarah-darah.

Saya sempat menulis nama Syamsul Hadi, seorang PhD lulusan terbaik Hosei University di Jepang yang meninggal dunia pada awal Oktober 2014. Silakan search saja karya-karya Syamsul Hadi, kawan saya yang kesepian sejak kuliah di UI, hingga berangkat ke Jepang tanpa ada biaya dan pun dukungan negara. Ia menerapkan “ilmu” yang mungkin tak biasa bagi kalangan rasional: melakonkan lelaku keagamaan tertentu sehingga bisa berbahasa Jepang, padahal tak pernah belajar bahasa Jepang.

Syamsulpun kenal Anies, sewaktu saya menjadi Ketua OC Simposium Nasional Angkatan Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad XXI. Syamsul Hadi dan Eep Saefullah Fatah adalah Scnya, sementara Anies menjadi salah seorang pembicara.

Pun ada seorang demonstran yang legendaris, pria yang kebetulan juga keturunan Arab bernama Annas Alamudi. Annas sempat menabrakkan mobilnya kepada pasukan KOSTRAD dalam aksi mahasiswa 1998. Dimana Annas kini? Ia berpindah-pindah negara, dari Afrika, Timur Tengah, hingga Papua Nugini, guna membangun sumur-sumur yang menghasilkan air bagi bangsa-bangsa miskin.

Dalam cara yang berbeda, Sandiaga Uno juga berpikiran sama tentang manusia-manusia Jakarta. Ia bahkan dianggap ambisius dengan menghasilkan 200.000 usahawan-usahawan muda baru sepanjang lima tahun. Terdapat 40.000 usahawan muda baru yang ingin dicetak yang tersebar di 44 kecamatan yang ada di Jakarta. Artinya, setiap kecamatan mencetak 909 orang usahawan muda per tahun.

Di tangan Anies dan Sandi, persoalan kemanusiaan tidak lagi seabstrak Generasi X membaca buku-buku Soedjatmoko, Mohammad Hatta ataupun Ziauddin Sardar.

Akankah publik Jakarta memahami hal ini, tujuh minggu lagi?

Rabu, 04 Januari 2017

Komentar

komentar