Home » Bandung Raya » Jadi Saksi, Para Terdakwa Bansos Kehabisan Kata-kata

Jadi Saksi, Para Terdakwa Bansos Kehabisan Kata-kata

(GAMBAR ILUSTRASI: ISTIMEWA)

(GAMBAR ILUSTRASI: ISTIMEWA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Para terdakwa Dana Bantuan Sosial Kota Bandung kehabisan kata-kata saat ditanya majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung terkait surat pernyataan adanya kelalaian dalam penyaluran dana bansos juga kerugian negara yang ditandatangani mereka. Empat dari tujuh terdakwa, Yanos Septadi, Rohman, Uus Ruslan, dan Havid Kurnia, menjadi saksi dalam sidang perkara suap dana bansos dengan terdakwa mantan Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi, Kamis (9/1/2014).

Saat Hakim Ketua yang juga Ketua Pengadilan Negeri Bandung Nur Hakim bertanya tentang mengapa mereka menandatangani surat pernyataan adanya kerugian negara, padahal mereka jelas-jelas merasa tidak melakukan penyelewengan dana bansos, keempatnya terdiam.

“Saudara menandatangani surat kerugian negara, padahal saudara sendiri mengaku tidak melakukan yang dituduhkan, kenapa?” tanya Nur Hakim. “Ya, kami tandatangan saja, karena memang ada kerugian negara,” ujar Yanos. “Iya, apakah ada yang dijanjikan oleh terdakwa (Edi Sis) kalau menandatangani? Seperti diperingan atau dibantu proses hukumnya?” tanya Nur Hakim lagi. Keempatnya kembali terdiam.

Beberapa kali, keempatnya mengelak saat ditanya mengapa mereka mau membayar kerugian negara, padahal mereka merasa tidak melakukan. Namun saat disinggung kerugian negara hasil perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Jabar sebesar Rp 9,8 miliar, Yanos menyebut dengan fasih. Hal itu membuat Nur Hakim heran dan terus mencecar mengapa ketujuhnya sukarela menandatangani surat pernyataan adanya kerugian negara. “Ya karena di situ ada nama pak Wali (mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada) dan pak Sekda,” ucap Yanos.

Havid, Rohman, Uus, dan Yanos mengaku bila Edi Sis dan Dada Rosada sering menengok mereka di Rumah Tahanan Kebonwaru sebelum status mereka dialihkan menjadi tahanan kota. Mereka menyebut, Dada memberi uang untuk keluarga mereka mengingat ketujuhnya tidak bekerja sementara waktu. “Tidak tentu (uang yang diberikan), pernah Rp 2,5 juta,” imbuh Rochman.

Keempatnya sendiri telah divonis 1 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung pada 2012 lalu. Dan di tingkat banding, Pengadilan Tinggi Jawa Barat menaikkan hukuman mereka menjadi 2,5 tahun dan 3 tahun untuk Rohman. Saat ini, proses hukum ketujuhnya masih dalam kasasi di Mahkamah Agung.

Mengenai banding sendiri, Nur Hakim sempat melontarkan pernyataan yang menggelitik kepada keempat terdakwa. “Jadi kalau jaksa (Kejaksaan Tinggi Jabar) tidak banding, saudara tidak akan banding? Terima saja?” tanya Nur Hakim. “Sekarang lagi kasasi ya? Artidjo (hakim MA) bagus tuh, bisa-bisa 2,5 tahun jadi 15 tahun penjara malah,” lanjut Nur Hakim santai yang disambut geer pengunjung sidang.

Dada Rosada dan Edi Sis sendiri dituduh melakukan suap kepada mantan Wakil Ketua PN Bandung Setyabudi Tedjocahyono terkait perkara dana bansos Kota Bandung dimana Setyabudi menjadi ketua majelis hakimnya. Hal itu dilakukan agar keduanya tidak disangkut pautkan dengan perkara itu. Mereka ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi, Agustus 2013 lalu. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.