Home » Headline » Pria Bersorban Yang Ngamuk ke Polisi Sesali Perbuatan

Pria Bersorban Yang Ngamuk ke Polisi Sesali Perbuatan

Kyai-Ngamuk-JABARTODAY.COM – KARAWANG

SL, Pria bersorban pernah mengamuk ketika ditilang petugas Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Karawang pada Operasi Zebra Lodaya 2013 di Karang Pawitan, Kamis (5/12) lalu, akhirnya diperiksa polisi. SL sendiri menyesali perbuatannya, karena ketika itu sedang emosi.

SL, yang merupakan salah satu pemilik pesantren penyembuh kejiwaan, tak menduga peristiwa marah-marahnya tersebut tersiar luas. “Itu kan nakutin banyak orang, aku kan refleks, kan kalo polisi waktu nangkep anak saya kan, “kamu di penjarakan” kan kaget saya juga, bisa nakuti saya. Nah saya tidak bisa nakutin polisi. Saya pikir juga ga baiklah disiarin dimana saja, kaget saya juga sekarang, kalo digigit nyamuk kan, gigitannya ga seberapa tapi pukulannya itu balesannya kuat,” ucapnya, Rabu (11/12).

Iapun meminta kepada media untuk tidak membesar-besarkan permasalahan tersebut. “Wartawan juga jangan terlalu dibesarkan dong masalah itu. Ga baik. Cari aja hikmahnya,” tuturnya.

Dirinya mengakui bahwa permasalahan terserbut terjadi lantaran dirinya mengatakan “bom”. “Ini juga gara-gara saya bilang bom, saya juga kaget saya bilang seperti itu. Ya dampaknya akhirnya menakuti dunia,” katanya.

Namun begitu, SL menyesali perkataannya saat itu dan meminta maaf kepada kepolisian terkait hal tersebut. “Ya, saya nyesal. Saya minta maaf kepada umat manusia, kepada polisi,” ucapnya.

Disinggung mengapa dirinya tidak menggunakan helm. SL menyebut, mengalami trauma karena pernah memakai sorban yang ditutupi helm, lalu diteriaki teroris oleh orang-orang yang melihatnya. “Aku di kejar-kejar orang terus diteriaki teroris. Coba kalo dari belakang saya ditimpuk pake batu, ya saya jatuh dipukulin orang, makanya saya ga berani pake helm, takut,” papar SL.

Ia menilai memakai sorban dan kopiah ada pahalanya. Dirinya hanya mencoba menerapkan ajaran Islam tentang penggunaan peci dan sorban dan menunjukkan Islam bukan teroris.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Karawang Ajun Komisaris Mirzal Maulana menyampaikan, pihaknya melakukan pemanggilan terhadap SL pada pukul 10.00 atas laporan dari Kepala Unit Kecelakaan Lantas Polres Karawang. ” Pada pemeriksaan, yang bersangkutan menyadari benar bahwa dia telah melakukan penghinaan kemudian pengancaman, dan melawan petugas pada saat operasi, sehingga kami melakukan pemeriksaan,” terang Mirzal.

Pada pemanggilan pertama, Kasatreskrim menyatakan, yang bersangkutan sangat kooperatif dan mengakui perbuatannya juga menyesalinya. “Yang bersangkutan menyesali perbuatannya karena emosi dan ketidakpahaman terhadap hukum yang berlaku, dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan itu lagi,” imbuh Mirzal.

Saat ini, polisi telah menetapkan SL sebagai tersangka usai memeriksa 8 saksi yang berada saat peristiwa terjadi. Namun begitu, SL tidak ditahan hingga pelimpahan berkas ke kejaksaan. SL hanya dikenakan wajib lapor setiap Senin dan Kamis. “Terkait masalah pidana kami akan menindaklanjuti kasus ini hingga selesai. Hukum dimanapun sama,” tegasnya.

Akibat perbuatannya, SL diancam pasal berlapis, yakni Pasal 310, 335, 316, dan 212 dengan ancaman kurungan penjara 1 hingga 4 tahun. (RHO)

Komentar

komentar