Home » Hukum » Kalimat ‘Tidak Pernah” Hiasi Sidang Suap Bansos Kota Bandung

Kalimat ‘Tidak Pernah” Hiasi Sidang Suap Bansos Kota Bandung

Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Sareh Wiyono, memberikan kesaksian di persidangan perkara suap hakim Dana Bantuan Sosial Kota Bandung, Kamis (24/10).Sareh membantah telah menerima uang dari Setyabudi Tedjocahyono terkait putusan banding. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Sareh Wiyono, memberikan kesaksian di persidangan perkara suap hakim Dana Bantuan Sosial Kota Bandung, Kamis (24/10).Sareh membantah telah menerima uang dari Setyabudi Tedjocahyono terkait putusan banding. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Entah karena faktor usia atau lamanya waktu kejadian, sidang suap hakim Dana Bantuan Sosial Kota Bandung yang melibatkan mantan Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tedjocahyono, dipenuhi kalimat ‘lupa’, ‘tidak ingat’, maupun ‘tidak pernah’. Kamis (24/10), sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi digelar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung dan menghadirkan beberapa orang, salah satunya adalah Sareh Wiyono, mantan Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Sareh, yang baru saja pensiun 1 Januari 2013, menyebut tidak pernah menerima uang dari Setyabudi terkait penanganan perkara bansos yang menjerat 7 terdakwa. Meski mengakui bertemu dengan Setyabudi dan sempat menyinggung soal perkara banding, dirinya menyatakan tidak mau ikut campur, karena sudah pensiun. “Itu bukan urusan saya lagi. Bicara aja dengan majelis yang bersangkutan,” ujarnya di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Bandung.

Majelis hakim yang diketuai Nur Hakim lebih banyak bertanya soal apakah Sareh mengetahui perkara Bansos Kota Bandung dan prosedurnya. Pertanyaan soal penerimaan dan pemberian uang baru dilontarkan oleh Jaksa Penuntut Umum di Komisi Pemberantasan Korupsi. JPU sempat bertanya dana untuk acara perpisahan dirinya di Hotel Horison Bandung sebesar Rp 130 juta berasal dari mana, Sareh menjawab bukan dari kantong pribadinya. “Saya tidak tahu darimana sumber dananya, yang pasti bukan dari uang saya sendiri,” tukasnya.

Saat ditanya apakah dirinya pernah meminta uang sebesar Rp 2 miliar kepada Setyabudi agar putusan banding sesuai dengan putusan PN, Sareh membantah itu. “Tidak pernah sama sekali!”

“Apakah saudara saksi pernah menerima uang Rp 250 juta dari saudara Setyabudi?” tanya JPU. “Tidak pernah sama sekali,” tukas Sareh.

Ditanya soal pertemuan dengan Setyabudi, Sareh mengaku tidak ingat berapa kali dan dimana bertemu dengannya. Hanya saja ia tidak menolak pernah menjenguk istri Setyabudi yang sedang sakit, tapi tidak pernah menyinggung soal kasus bansos sama sekali.

Pemeriksaan terhadap mantan hakim tinggi itu sendiri hanya berlangsung sekitar 1-2 jam. Ada kejadian unik, ketika sidang yang sebelumnya diskors akan dimulai kembali, Sareh langsung memasuki ruang sidang dan akan duduk di kursi saksi, padahal hakim sendiri belum tiba. Hal itu sempat membuat jaksa tertegun dan menyilakan untuk duduk. Lazimnya, seorang saksi sebelum memberikan keterangan, menunggu di luar sidang dan dipanggil ketika sidang dimulai. (VIL)

Komentar

komentar