Home » Hukum » Jadi Bidan, Jualan Bayi

Jadi Bidan, Jualan Bayi

lensaindonesia

lensaindonesia

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Meskipun memiliki pekerjaan mulia, tidak menutup kemungkinan seseorang melakukan tindak kejahatan. Hal itu dialami TMH, wanita paruh baya yang berprofesi sebagai bidan, yang sejatinya membantu orang melahirkan.

Pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung ini diringkus jajaran Polda Jawa Barat setelah kedapatan menjual bayi laki-laki dengan berat 3,2 kg dan panjang 48 cm, yang baru saja berusia delapan jam, Jumat (13/9) lalu. Bayi itu dia jual dengan harga Rp 7juta. Saat ini, bayi tersebut masih dirawat di RS Polri Sartika Asih.

Dari hasil pemeriksaan polisi, tersangka diketahui memulai praktek ilegal ini sejak setahun terakhir, setidaknya sudah tujuh bayi yang berhasil dia jual. Usia rata-rata wanita yang datang ke tempat prakteknya di Jalan Desa Cipadung No 14, RT 03/05, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, berkisar 17-30 tahun.

“Kasus ini terungkap berdasarkan laporan masyarakat, atas dasar laporan tersebut Ditreskrimum menerjukan petugas dari Unit II Subdit IV (PPA) ke lapangan, dan pada Jumat petugas berhasil menangkap pelaku,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar, Komisaris Besar Martinus Sitompul, di Mapolda Jabar, Kamis (19/9).

Martinus menjelaskan, penjualan bayi ini tanpa diketahui langsung orang tua bayi. Pasalnya, ibu dari bayi malang tersebut hanya berniat menitipkan bayinya kepada T. Sementara, motif si ibu menitipkan bayi yang harusnya ia jaga dan rawat sendiri itu beragam. Ada yang karena keterbatasan ekonomi, tetapi ada juga yang sengaja menitipkan karena malu menanggung aib, alias hamil di luar nikah.

“Orang tua bayi tidak tahu apa bayi tesebut dijual atau diberikan kepada orang yang membutuhkannya, karena hingga saat ini kita masih dalami,” terangnya.

Martin menegaskan, perbuatan tersebut sangat melanggar undang-undang. Kalaupun bayi-bayi yang diberikan itu akan diadopsi, maka harus melalui jalur yang benar, yakni dengan membuat akta kelahiran bayi dan beberapa syarat dokumen lainnya dari seorang notaris.

Saat ini, polisi sudah menetapkan T menjadi tersangka. Sementara, pihak kepolisian sendiri telah memeriksa enam orang saksi dan beberapa keterangan dari warga setempat. “Kalau pembeli belum didugakan sebagai pelaku, kita lakukan dulu satu tindakan undercover (penyamaran),” imbuh Martin.

Polisi menjerat T dengan Pasal 83 UU RI No 23/2003 tentang Perlindungan Anak yang ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara. (VIL)

Komentar

komentar