ojk
Home » Headline » Wacana DP 0 Persen, Ini Efek bagi Suzuki

Wacana DP 0 Persen, Ini Efek bagi Suzuki

All New Suzuki Ertiga
(jabartoday.com/erwin adriansyah)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Beberapa waktu lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki sebuah wacana berkenaan dengan sektor otomotif. Yaitu, berupa down payment (DP) 0 persen Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

Namun, wacana itu berlaku bagi lembaga pembiayaan (leasing‘) yang memiliki catatan kinerja serta kondisi keuangan yang baik. Bagi leasing yang catatan dan kondisi keuangannya kurang mendukung, yang berlaku adalah Sap sebesar 5-25 persen.

Tujuan pemberlakuan wacana itu untuk lebih menggairahkan pasar otomotif nasional. Beragam respon pun diutarakan para produsen dan dealer otomotif. Salah satunya PT Nusantara Jaya Sentosa (NJS) main dealer PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), area Jabar dan Priangan.

“Kami memang mendengar adanya wacana DP 0 persen. Sebagai diler, tentunya ini dapat mendorong penjualan. Tapi, tidak sesederhana itu,” tandas Sales & Marketing Manager PT NJS, Vicky Yusika, di PT NJS, Jalan Soekarnohatta Bandung, Kamis (30/8).

Menurutnya, penjualan mobil berkaitan dengan leasing. Pasalnya, jelas dia, komposisi penjualan, khusus brand Suzuki, utamanya, di wilayah kerjanya,  saat ini, sebesar 70-30. Sebesar 70 persen, jelas dia, berupa kredit melalui lembaga pembiayaan. Sisanya, sambung dia, secara cash.

Karena pembelian oleh konsumen masih didominasi kredit, tentunya, wacana DP 0 persen bergantung pada kondisi keuangan dan Non-Performing Finance (NPF) sebuah leasing. Selain itu, tambahnya, wacana itu pun bergantung pada market. Selama ini, tuturnya, pihaknya, yang belumilili produk premium, menyasar market middle-low end atau menengah-bawah.

Melihat kondisi itu, Vicky berpendapat, seandainya wacana DP 0 persen bergulir, sangat mungkin, pihaknya tidak merasakan efeknya. “Kalau pun ada, efeknya mendorong pertumbuhan penjualan yang kecil,” tukasnya.

Dijelaskan, apabila DP 0 persen bergulir, tentunya, nilai cicilan terpengaruh. Tidak tertutup kemungkinan, ucapnya, nilai cicilan kredit menjadi lebih besar. Hal seperti itu, sahutnya, idealnya menjadi pertimbangan pertimbangan. (win)

Komentar

komentar