Home » Headline » Donald Trump Nilai Perundingan dengan Korea Utara Belum Menghasilkan

Donald Trump Nilai Perundingan dengan Korea Utara Belum Menghasilkan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (dok.AFP)

JABARTODAY.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan beberapa presiden dan administrasi mereka telah berbicara dengan Korea Utara selama 25 tahun, kesepakatan dibuat dan sejumlah besar uang dibayarkan, namun belum menghasilkan apapun.

Penegasan itu disampaikan Trump lewat twitter pribadinya, Sabtu.  Trump menambahkan sejumlah perundingan  dengan Republik Rakyat Demokratik Korea Utara, setelah perundingan terakhir dengan Pyongyang tidak menghasilkan apapun. Trump merasa kecewa karena perundingan dengan pemerintah Korea Utara tersebut  belum berhasil.
“Kesepakatan yang pernah ada justru dilanggar sebelum tinta kering, membuat negosiator Amerika Serikat menjadi bodoh,” cetus Trump dengan nada kesal.
“Maaf, tetapi hanya satu hal yang akan berhasil,” kata Trump, tanpa menjelaskan apa yang dia maksud dengan cuitan itu.
Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders kemudian mengkonfirmasi kepada media bahwa semua opsi masih ada dan dia mengaku tidak ada yang perlu ditambahkan saat ini.
Ketegangan meluas di Semenanjung Korea saat Korea Utara melakukan uji coba nuklir keenam dan yang paling kuat pada 3 September.
Sebagai tanggapan, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi baru yang memperketat sanksi terhadap Pyongyang. Kemudian, Korea Utara menguji coba rudal balistik jarak menengah yang terbang di atas Jepang.
Sekretaris Negara AS Rex Tillerson mengungkapkan dalam sebuah kunjungan ke China pada akhir September bahwa Amerika Serikat memiliki saluran komunikasi langsung dengan Korea Utara.
“Kami memiliki jalur komunikasi dengan Pyongyang. Kami tidak dalam situasi gelap. Kami memiliki beberapa saluran langsung ke Pyongyang. Kami dapat berbicara dengan mereka … Kami telah menjelaskan bahwa kami berharap dapat menyelesaikannya. Ini melalui pembicaraan,” kata Tillerson, seperti dikutip dari Kantor Berita Xinhua. (jos/dbs)

Komentar

komentar