ojk
Home » Ekonomi » Seperti Ini Kondisi Terkini Industri Jabar

Seperti Ini Kondisi Terkini Industri Jabar

(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejak beberapa bulan terakhir, isu trade war antara Amerika Serikat (AS) dan China berdampak pada perekonomian global. Imbasnya pun dirasakan negara ini.

Salah satu efek perkembangan kondisi ekonomi global terlihat pada terdepresasinya rupiah terhadap Dolar AS. Posisi rupiah menembus Rp 15.000 per Dolar AS.

“Ini situasi yang berat bagi dunia industri nasional, termasuk Jabar. Saat ini, industri tidak mengalami pertumbuhan. Yang terjadi slow down,” tandas Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar, Dedy Widjaja, pada sela-sela Pelantikan Pengurus Cabang Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Subang di Hotel Golden Flower, Jalan Asia Afrika Bandung, Senin (15/10).

Dedy mengiyakan, imbas depresiasi rupiah dirasakan dunia industri dan usaha Jabar. Menurutnya, saat ini, industri-industri Jabar mengalami penumpukan produk. Itu terjadi, jelasnya, karena produk tidak terserap pasar, baik domestik maupun ekspor.

Situasi itu, sambung Dedy, membuat income industri tersendat. Hal itu, lanjutnya, menyebabkan beban industri kian berat.  Akibatnya, ungkapnya, industri Jabar terancam gulung tikar.

Dedy membeberkan, pihaknya menerima informasi bahwa sekitar 30 persen industri Jabar, mayoritas sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), akhir 2018 stop beroperasi. Menurutnya, tutupnya 30 persen industri Jabar itu karena beberapa hal.

Antara lain, tuturnya, harga bahan baku naik karena pengaruh depresiasi rupiah. Lalu, sahutnya, tidak terserap pasar. Kondisi-kondisi tersebut, ucapnya, sangat berpengaruh pada keberlangsungan industri.

Tentu saja, tukasnya, ada imbas lain berkenaan dengan gulung tikarnya sekitar 30 persen industri itu, yaitu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masif. “Saya kira, akibat kondisi saat ini, ratusan ribu pekerja dibayangi PHK massal. Kami harap, ada langkah-langkah kongkret untuk menyelamatkan industri agar PHK massal tidak terjadi,” tutup Dedy.  (win)

Komentar

komentar