Home » Ekonomi » Trik Baru OJK Dongkrak Literasi

Trik Baru OJK Dongkrak Literasi

(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Hingga kini, ternyata, tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat di tanah air masih rendah. Secara nasional, tingkat literasi sebesar 29,7 persen. “Sejak 2013, pertumbuhannya sangat tipis. Empat tahun lalu, tingkat literasi nasional sekitar 21,8 persen,” tandas Kepala Departemen Literasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agus Sugiarto, pada sela-sela Sosialisasi Peraturan OJK (POJK) tentang Literasi dan Inklusi Keuangan di Aryaduta Hotel, Jalan Sumatera Bandung, Selasa (16/5).

Pihaknya, tegas dia, berkomitmen penuh dan berusaha keras untuk meningkatkan literasi-inklusi keuangan. Berbagai upaya pun, kata Agus, OJK lakukan. Di antaranya, menerbitkan POJK berkenaan dengan edukasi dan sosialisasi literasi-inklusi keuangan.

Diutarakan, POJK berlaku bagi 3.077 industri keuangan di tanah air. Pihaknya berharap, serunya, industri-industri keuangan pun turut berperan lebih aktif dalam melakukan edukasi dan sosialisasi literasi-inklusi keuangan. Untuk itu, ungkapnya, pihaknya menyiapkan strategi dan jurus terkini guna mendongkrak tingkat literasi dan inklusi keuangan.

“Kami mengembangkan skema edukasi dan sosialisasi literasi-inklusi keuangan melalui sistem Teknologi Informasi (TI), semisal electronik book (e-book). Lalu, kami juga mengembagkan data nasional soal materi literasi keuangan yang dapat diakses seluruh kalangan. Ada juga website-nya. Masyarakat pun dapat memanfaatkan skema TI itu, tidak hanya mengenai literasi dan inklusi keuangan, tetapi juga mengecek legalitas perusahaan investasi,” paparnya.

Menurutnya, peran literasi dan inklusi keuangan punya peran penting dalam dunia ekonomi, karena dapat menjadi sumber demand. Implikasi literasi dan inklusi keuangan, sambungnya, tidak hanya secara global, tetapi juga, dapat berefek positif bagi perkembangan dan pembangunan serta perekonomian nasional.

Agus mengakui bahwa bukan perkara dan pekerjaan mudah agar masyarakat memahami literasi dan inklusi keuangan. Menurutnya, apabila hanya OJK yang melakukan edukasi dan sosialisasi tentnag literasi dan inklusi keuangan, itu merupakan hal yang berat. “Butuh peran serta semua pihak, termasuk pemerintah dan industri jasa keuangan,” tegas dia.

Bagaimana Jabar? Kepala OJK Kantor Regional 2 Jabar, Sarwono, mengimbuhkan, sejauh ini, tingkat literasi dan inklusi Jabar termasuk yang tertinggi. “Selain Jabar, ada juga DKI Jakarta, Jateng, Jatim, dan Yogyakarta yang literasinya tinggi. Tingkat literasi Jabar 38 persen. Sedangkan inklusi 71 persen,” tutupnya. (win)

Komentar

komentar