Home » Ekonomi » Umbi-umbian Nasional Tidak Terperhatikan

Umbi-umbian Nasional Tidak Terperhatikan

SuwegJABARTODAY.COM – BANDUNG
Ternyata, potensi komoditi agro nasional, seperti umbi-umbian, begitu besar. Sayangnya, hingga kini, komoditi umbi-umbian belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal, jika termanfaatkan lebih optimal, komoditi itu dapat memberi nilai tambah ekonomi sehingga dapat menunjang pemberdayaan dan pertumbuhan ekonomi lokal.
 
Uniknya, justru negara lain yang memanfaatkan umbi-umbian nasional secara lebih optimal. Adalah Jepang yang melakukannya. “Benar. Negara itu (Jepang) mengimpor umbi-umbian dari Indonesia, yaitu Sumatera dan Jawa, termasuk Jabar, yaitu satu di antaranya, asal Kabupaten Kuningan, dalam volume besar setiap bulannya,” ujar pengamat pertanian yang juga anggota Dewan Pakar Forum Ekonomi Jabar (FEJ), Nur Suhud, di Rumah Makan Sunda Sindang Reret, Jalan Surapati Bandung, Sabtu (25/1/2014).
 
DIkatakan, Jepang mengimpor komoditi itu karena Negeri Matahari Terbit tersebut mengembangkan sistem diversifikasi makanan. Menurutnya, Jepang mendatangkan umbi-umbian dari Sumatera dan Jawa karena komoditi itu memiliki karbohidrat yang tinggi.
 
Nursuhud melanjutkan, tingkat kebutuhan umbi-umbian di Jepang tergolong tinggi. Perkiraannya, sebut Nursuhud, Negeri Shogun itu mendatangkan umbi-umbian dari Indonesia mencapai puluhan ton per bulan. Jenisnya beragam. Misalnya, umbi jalar, ketela, dan sebagainya. “Bahkan, ada satu jenis unmbi-umbian, yang mungkin masih banyak kalangan yang belum mengetahuinya, yaitu suweg, ternyata, diimpor dan diolah oleh Jepang,” tukas Nursuhud.
 
Dia melanjutkan, untuk mendatangkan umbi-umbian itu, Jepang melakukan berbagai langkah. Satu diantaranya, menjalin kerjasama dengan kalangan petani umbi-umbian. “Saya kira, alangkah lebih baik jika hal ini dimanfaatkan oleh potensi lokal, bukan pihak atau negara lain,” katanya.
 
Komoditi lokal lain yang kurang termanfaatkan, yaitu durian. Nur menyatakan, saat ini, kualitas durian lokal terus menyusut. “Pada 2006, durian lokal yang marketable sekitar 80 persen. Tiga tahun berikutnya atau 2009, durian yang marketable drop menjadi 20 persen. Sekarang, nyaris 0 persen,” keluhnya.
 
Tentunya, imbuh Nur, ini merupakan sebuah hal yang ironi. Pasalnya, negara ini kurang memanfaatkan potensi sumber daya alam yang begitu melimpah, termasuk pada komoditi agro. “Tapi, kenyataannya, kurang termanfaatkan optimal,” tutup dia.  (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.