Home » Ekonomi » Ternyata Potensi Tambang Jabar Besar

Ternyata Potensi Tambang Jabar Besar

tambangJABARTODAY.COM – BANDUNG
Ternyata, Jawa Barat memiliki potensi ekonomi yang luar biasa besar. Hanya saja, sejauh ini tidak termanfaatkan secara optimal bagi kemakmuran masyarakatnya.
 
Pengamat pertambangan, Nandang Sudrajat, menjelaskan, sebenarnya, Jabar memiliki potensi tambang yang begitu besar. Kandungan tambang di Tatar Pasundan, antara lain, pasir besi, timah hitam, tembaga. Itu, sebut dia, tersebar di beberapa titik. Yaitu, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor.
 
Selain itu, sambungnya, Jabar pun kaya oleh bahan mineral non-logam. Seperti, kalsium karbonat, ballclay, bentonit (lumpur pemboran), dolomit (bahan tahan api). Itu semua, ujarnya, terdapat di kawasan Jabar Selatan.
 
Melihat kondisi itu, ucap Nandang, sudah sepantasnya, Jabar memanfaatkannya secara optimal. Jangan sampai, sahut dia, Jabar mengekspor bahan-bahan mentah tersebut, untuk kemudian diolah negara lain. “Selanjutnya, Jabar mengimpornya lagi. Ini kan lucu,” tuturnya.
 
Karenanya, Nandang berpendapat, sebaiknya, sistem smelterisasi perlu diberlakukan. Hal itu, terang dia, dapat lebih menghemat sekaligus memberi nilai tambah. Soalnya, tambah dia, smelterisasi dapat menjadi fondasi sekaligus meningkatkan kapasitas serta daya saing industri nasional. “Jabar sangat mampu karena punya bahan-bahan yang memang dibutuhkan industri-industri,” ucap dia.
 
Mengenai kondisi minyak dan gas bumi (migas), khususnya, gas bumi, Nandang menegaskan, sebenarnya, Indonesia punya cadangan yang melimpah. Cadangan itu mampu memenuhi kebutuhan nasional hingga 44 tahun.
 
Akan tetapi, faktanya, ketersediaan gas bumi di negara ini, terkesan seperti kurang dapat mencukupi kebutuhan. Dia menilai, memang, berdasarkan kontrak dan kesepakatan dengan para kontraktor yang bergerak dalam bidang pertambangan, utamanya, asal asing, Indonesia memperoleh 85 persen hasil tambang. Sisanya, untuk kontraktor.
 
Meski demikian, lanjutnya, kuat dugaan, ada hal lain yang kemungkinan besar membuat kesan pasokan gas di tanah air kurang mencukupi kebutuhan. Hal lain tersebut, dirinya memperkirakan, adanya kewajiban negara untuk mengganti biaya recovery kontraktor. Ia mendapat informasi, bahwa pembayaran itu dalam bentuk produk. “Kami tidak tahu berapa besar pembayaran itu,” tutup Nandang.  (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.