Home » Ekonomi » Pembatasan Hotel di Bandung Diperlukan

Pembatasan Hotel di Bandung Diperlukan

Ketua PHRI Jabar, Herman Muchtar. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Ketua PHRI Jabar, Herman Muchtar. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Saat ini Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Karenanya, tidak heran, apabila pada saat akhir pekan, terutama long weekend, kota berjuluk Parisj van Java ini senantiasa disesaki para wisatawan, tidak hanya domestik, tetapi juga mancanegara.

Itu terlihat pada tingkat okupansi hotel, yang apabila pada saat weekend dan long weekend, mencapai 90-100%. Meski demikian, ternyata, pada kondisi hari biasa, okupansi hotel di Kota Bandung, rata-rata tidak melebihi 40%.

“Idealnya, berdasarkan perhitungan kami, jumlah kamar hotel di Jabar mencapai 10 ribu unit. Saat ini, jumlah kamar mencapai 18 ribu hotel,” ujar Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Jawa Barat, Herman Muchtar, pada Seminar Optimalisasi Sarana Industri Pariwisata Kota Bandung di Auditorium Rosada, Balai Kota Bandung, Jumat (6/12).

Menurutnya, penambahan hotel di Jabar, khususnya, Kota Bandung, begitu pesat. Situasi itu, lanjut Herman, menyebabkan terjadinya persaingan yang kurang sehat. Selain itu, sambungnya, hal tersebut pun berpengaruh pada tingkat okupansi, terutama pada weekday, yaitu periode Senin-Kamis.

Lain halnya dengan di Jakarta. Di ibu kota, lanjut Herman, okupansi hotel pada weekday justru penuh. Sebaliknya, saat weekend dan long weekend, okupansi hotel-hotel di Jakarta sedikit.

 

Melihat kondisi itu, Herman menyatakan, pihaknya mengajukan usul adanya moratorium pembatasan pembangunan hotel di Jabar, khususnya Bandung. Dasarnya, jelas dia, harus ada keseimbangan antara jumlah tamu dan kamar yang tersedia. “Jangan sampai, saat weekday kosong, tetapi penuh hanya ketika weekend dan long weekend,” ucapnya.

Djoni Sofyan Iskandar, Tim Kelompok Kerja Pariwisata Dewan Pengembangan Ekonomi Kota Bandung, menambahkan, saat ini terjadi pergeseran paradigma istilah wisatawan. “Dulu, wisatawan atau turis itu adalah mereka yang benar-benar berwisata atau berekreasi di sebuah kota atau daerah selama 24 jam lebih. Sekarang tidak seperti itu,” terangnya.

Saat ini, wisatawan terbagi 3, yaitu recreationist, yaitu penduduk lokal yang berekreasi di mal-mal, taman-taman kota, dan sebagainya, yang lama waktu berekreasinya tidak melebihi 6 jam. Lalu, Day Tripper, para pewisata yang berekreasi maksimal 12 jam. Lokasinya, kota-kota atau daerah-daerah terdekat.

Selanjutnya, imbuh dia, ada yang nama Excurtionist. Kalangan ini adalah, terangnya, yang berwisata maksimal 24 jam. Lokasinya, wilayah regional. “Terakhir adalah tourist, yang berwisata 24 jam lebih,” terangnya.

Agar Kota Bandung dapat lebih memiliki daya tarik, saran Djoni, sebaiknya, memiliki sasaran segmen pasar. Kemudian, sahut dia, menciptakan jenis destinasinya. “Selain itu, juga sebaiknya memperhatikan jenis dan atraksi wisata budaya serta ditunjang manajemen wisata yang baik, yang tentunya, melibatkan seluruh stakeholder,” tutupnya. (VIL)

Komentar

komentar