Home » Ekonomi » Perhutani Unit III Targetkan Pendapatan Rp 700 M

Perhutani Unit III Targetkan Pendapatan Rp 700 M

perhutaniJABARTODAY.COM – BANDUNG

Meningkatkan kinerja menjadi opsi yang dipilih Perum Perhutani Unit III Jabar-Banten, diantaranya dengan menaikkan income non-kayu. Lembaga BUMN tersebut mencanangkan pendapatan non-kayu dapat berkontribusi lebih besar lagi, yaitu 70% dari total pendapatan mereka.

Kepala Perhutani Unit III Jabar-Banten, Dadang Hendaris, mengungkapkan, tahun ini, pihaknya memproyeksikan pendapatan sekitar Rp 700 miliar. “Mayoritas yaitu non-kayu. Nilainya sekitar Rp 530 miliar,” ujar Dadang, di Kantor Perum Perhutani Unit III Jabar-Banten, belum lama ini.

Dadang menjelaskan, income non-kayu bersumber pada hasil hutan bukan kayu. Pengembangan komoditinya, sambung dia, pada beberapa jenis, yaitu Gondorukem, Terpentin, Karet, Kayu Putih, dan Madu.

Diutarakannya, sejauh ini, Perhutani mengandalkan Gondorukem dan Terpentin. Pasalnya, 80% dari komoditi-komoditi itu adalah untuk ekspor. “Beberapa negara meminati dua komoditi itu. Diantaranya, Belanda dan Cina. Biasanya, gondorukem dan terpentin menjadi bahan baku komestik. Harga jualnya pun tinggi,” tuturnya.

Melihat peluang dan potensi itu, Dadang menyebut, pihaknya sedang menyusun sejumlah rencana. Salah satunya, ungkap dia, membangun pabrik pengolahan gondorukem dan terpentin. “Rencananya, lokasinya di Sukabumi,” ucapnya.

Tidak hanya gondorukem dan terpentin, tambah Dadang, pihaknya pun melakukan pengembangan karet. Menurutnya, karet menjadi salah satu komoditi yang menjadi fokus pihaknya. Dasarnya, harga jualnya tidak pernah turun, berkisar Rp 27-30 ribu per kilogram.

Berkenaan dengan pengembangan karet, Dadang menyatakan, pihaknya melakukan penanaman pada lahan 20.000 hektare. “Hasilnya, memang tidak bersifat jangka pendek dan instan. Hasilnya baru terasa dalam 5 tahun. Karet jadi fokus garapan perusahaan karena harga jualnya tidak pernah turun,” papar Dadang.

Sektor lainnya, imbuh dia, yang juga digenjot pihaknya, yaitu ekowisata. Hingga kini, sebut dia, jajarannya memiliki sekitar 74 titik lokasi wisata potensial. Total pemasukannya, aku Dadang, bernilai tinggi, sekitar Rp 80 miliar per tahun. “Untuk ekowisata, kami memproyeksikan pendapatan naik menjadi Rp 100 miliar,” cetus dia.

Mengenai areal yang dikelola Perum Perhutani Unit III, Dadang menyebutkan, sejauh ini, pihaknya mengelola 678 ribu hektare hutan di Jabar-Banten. Sekitar 568 ribu hektare diantaranya berlokasi di Jabar. “Yang terluas terdapat di beberapa titik, yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Garut. Luasnya, sekitar 20-60 ribu hektare,” tutup Dadang. (VIL)

Komentar

komentar