Home » Ekonomi » Kenaikan Tarif Tol Kian Beratkan Dunia Usaha

Kenaikan Tarif Tol Kian Beratkan Dunia Usaha

jalan tolJABARTODAY.COM – BANDUNG

Beberapa waktu lalu, pemerintah berencana melakukan penyesuaian tarif 14 ruas jalur tol. Secara rata-rata, penyesuaian tarif, yang kabarnya berlangsung pada akhir September ini, sebesar 10%.

Adalah Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum yang berencana dam segera menaikkan tarif tol di seluruh Indonesia pada Semester II tahun ini.

Bagi dunia usaha, kenaikan tarif tol tersebut dapat semakin memberatkan beban mereka. “Saya kira, beban kian berat. Soalnya, beberapa waktu lalu, tarif dasar listrik naik. Lalu, BBM (bahan bakar minyak). Ditambah oleh adanya penyesuaian harga elpiji industri plus pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS). Apalagi,adanya usul mengenai UMK (upah minimum kota-kabupaten) sebesar 50 persen,” ujar Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat, Deddy Widjaya.

Melihat kondisi itu, Deddy berpendapat, secara kumulatif, penyesuaian tarif 14 ruas tol itu menyebabkan makin beratnya beban yang harus dipikul dunia usaha. Menurut Deddy, sebaiknya kenaikan tarif tol itu diimbangi oleh pelayanan dan kualitas jalur tersebut.

Pasalnya, jelas dia, selama ini jalur distribusi dunia usaha masih kerap terhambat kemacetan, yang terjadi pada beberapa ruas tol. Contohnya di Cikarang-Tanjung Priok. Kondisi itu menyebabkan volume pendistribusian menyusut, yang semula 3 rit/hari. “Kini, menjadi 1 rit per hari,” singkatnya.

Bagi pengusaha, sambungnya, situasi itu sangat merugikan. Kemacetan itu, jelas Deddy, menyebabkan pendistribusian terlambat. Efek keterlambatan itu, imbuh Deddy, para pelaku usaha terkenal sanksi berupa penalti. Namun, jika memang penyesuaian tarif tol sekitar 10 persen terealisasi, pihaknya tidak dapat berbuat banyak.

Diperkirakan, kata Deddy, adanya penyesuaian tarif tol tersebut, tidak tertutup kemungkinan, para pelaku usaha dan industri pun menyesuaikan harga jual produknya. Ia memprediksi, penyesuaiannya mencapai 2 digit, guna menutupi biaya produksi dan operasional.

Akan tetapi, kenaikan harga produk berpotensi menyebabkan pelemahan daya beli masyarakat. “Dampaknya yaitu inflasi yang dapat berujung pada melemahnya kinerja,” tandas Deddy.

Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat Jabar, Aldo F Wiyana, sependapat, bahwa rencana pemerintah menaikkan 14 ruas tarif tol dapat sangat memberatkan pengusaha angkutan penumpang. Aldo memandang, hal itu dapat semakin membuat load factor angkutan kendaraan besar, semisal bus Antar-Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP), yang load faktor-nya  saat ini sekitar 30%. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.