Home » Ekonomi » Mobil LCGC Jadi Ancaman PO Bus

Mobil LCGC Jadi Ancaman PO Bus

Calon penumpang di Pool Bus Jatinangor saat menunggu kedatangan bus di shelter seadanya, Selasa (23/10). Pool bus itu menjadi tempat keberangkatan dan kedatangan bus jurusan Jatinangor-Dipati Ukur dan Jatinangor-Elang. (DEDE SUHERLAN/JABARTODAY.COM)

Calon penumpang di Pool Bus Jatinangor saat menunggu kedatangan bus di shelter seadanya, Selasa (23/10). Pool bus itu menjadi tempat keberangkatan dan kedatangan bus jurusan Jatinangor-Dipati Ukur dan Jatinangor-Elang. (JABARODAY/DEDE SUHERLAN)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Beberapa waktu lalu, pemerintah menerbitkan izin mengenai peredaran mobil murah ramah lingkungan alias Low Cost Green Car (LCGC). Namun, bagi para pelaku bisnis transportasi, utamanya, perusahaan otobus (PO), peredaran LCGC menjadi sebuah ancaman yang cukup serius.

Menurut Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat Jawa Barat, Aldo F. Wiyana, ancaman yang cukup nyata sebagai dampak kehadiran LCGC yaitu kebangkrutan. Aldo berpendapat, kehadiran mobil LCGC dapat menyusutkan daya angkut bus, baik Antar-Kota Dalam Provinsi (AKDP) maupun Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP).

“Saat ini, secara rata-rata, load factor AKDP dan AKAP, sekitar 30 persen. Situasi saat ini saja sangat memberatkan para pelaku usaha transportasi. Kondisinya dapat kian berat apabila mobil LCGC beredar. Secara perlahan, load factor dapat turun,” ujarnya.

Organda melihat, jika peredaran LCGC makin membesar, ancaman bagi para pebisnis transportasi dan angkutan kian nyata. Tidak tertutup kemungkinan, sambungnya, banyak PO yang gulung tikar.

Sejauh ini, ungkap Aldo, di Jabar, terdapat sekitar 8 ribu armada bus AKDP dan AKAP, yang dikelola sekitar 200 PO. “Tidak tertutup kemungkinan, peredaran mobil LCGC dapat mendongkrak kepemilikan kendaraan pribadi,” urainya.

Pasalnya, Aldo memandang, program mobil murah tersebut memungkinkan masyarakat kelas menengah-bawah membeli mobil secara kredit. Hal ini yang secara perlahan dapat membuat terjadinya peralihan penggunaan kendaraan umum menjadi mobil pribadi.

Aldo menganalogikan peredaran dan pertumbuhan sepeda motor yang begitu luar biasa melalui skema kredit. “Pertumbuhan sepeda motor itu ibarat sebuah pukulan bagi industri transportasi Jabar,” ungkap Aldo.

Persoalannya, seperti dituturkan Aldo, masyarakat yang semula memanfaatkan angkutan umum seperti angkutan kota dan bus AKDP, secara perlahan, beralih pada sepeda motor. Efeknya, daya tampung angkutan umum merosot 30-45%. (VIL)

Komentar

komentar