Home » Ekonomi » Potensi Reksa Dana di Jabar Besar

Potensi Reksa Dana di Jabar Besar

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad (tengah) didampingi pengurus Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia membuka acara Pekan Reksa Dana di Trans Studio Bandung, Jumat (28/6). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad (tengah) didampingi pengurus Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia membuka acara Pekan Reksa Dana di Trans Studio Bandung, Jumat (28/6). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2012 mencapai Rp 8.241,9 triliun atau naik dibanding sebelumnya yang sekitar Rp 7.422,8 triliun. Dan potret perekonomian Indonesia masuk urutan 15 besar dunia dan berkontribusi 34% terhadap PDB di kawasan Asia Tenggara.

Meski begitu, industri reksa dana di Indonesia belum berkembang pesat atau sekitar 1% dari jumlah penduduk yang sekitar 250 juta jiwa. Maraknya penipuan berkedok investasi alias investasi bodong ikut mempengaruhi hal tersebut yang membuat masyarakat enggan menanamkan uangnya.

Maka itu, Asosiasi Pengelola Dana Reksa Indonesia (APRDI) mengadakan Pekan Reksa Dana (Perdana) sebagai upaya menumbuhkan dan mengedukasi masyarakat untuk berinvestasi di reksa dana.

“Calon investor harus mengetahui apa yang mau diinvestasikan dan mendapatkan hasil lebih baik,” ujar Wakil Ketua APRDI, Yobel Hadikrisno, dalam pembukaan Perdana di Trans Studio Mall, Jumat (28/6).

Dirinya berpendapat, reksa dana secara hukum lebih aman, regulasi terjamin, dan tersimpan secara aman. Maka itu, dirinya meyakinkan, masyarakat tidak perlu takut menginvestasikan hartanya. “Dengan investasi yang baik akan terjamin masa depan yang lebih cemerlang,” ucap Yobel.

Kegiatan ini disambut baik oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D. Hadad. Apalagi, investor reksa dana di Indonesia hanya 200 ribu dengan nilai sekitar Rp 190 triliun.

“Ini karena kurangnya informasi masyarakat terhadap investasi reksa dana. Padahal investasi dapat menjadi roda perekonomian kita. Pasar modal akan lebih strategis bila memiliki investor reksa dana,” kata Muliaman.

Di Jawa Barat sendiri, total investor reksa dana hanya 29 ribu orang atau 0,16% dari jumlah penduduk Tatar Pasundan. Padahal, Muliaman menyebut, potensi Jabar sangatlah besar, dikarenakan sebagian masyarakat kelas menengah Indonesia berada di provinsi ini.

“Kembali lagi ini masalah informasi yang masih kurang. Jangan salah, reksa dana sudah going mikro, dengan modal Rp 100 ribu kita sudah bisa berinvestasi,” ungkap pria berkacamata itu.

Meski tidak menyebutkan secara eksplisit, Muliaman menyatakan, income perkapita masyarakat Jabar sangat baik dan lebih besar dibanding daerah lainnya. Bahkan, dirinya memprediksi kelas menengah di Indonesia dapat mencapai penghasilan perkapita 10 ribu dollar/tahun.

Oleh sebab itu, Yobel menambahkan, pihaknya hadir mengadakan kegiatan ini untuk menumbuhkembangkan perekonomian Jabar dengan berinvestasi secara baik dan aman.

“Maka itu kita kampanyekan ‘Ayo Investasi!’. Kampanye ini menjadi perlu, karena dalam berinvestasi harus memahami dulu, lalu melakukan secara benar dan teratur, baru terasa manfaatnya,” imbuh Yobel. (VIL)

Komentar

komentar